- Episode 4 -
Malam semakin larut, kesunyian malam dihentakan dengan
alunan jangkrik di sudut2 ruangan.
Di apartemen itu, Fikry tinggal sendiri. Ia duduk di salah
satu sofa ruang tamu, lampu masih belum dimatikan.
Gelap dan sunyi nya malam kali ini tidak membuat Fikry
merasa kantuk.
Meski sudah penat dan lelah, rasa kantuk dan keinginan untuk
istirahat itu tak kunjung datang.
Ia malah dihampiri kekalutan dan kegundahan yang terus saja
membebani hati dan pikirannya.
Sesekali ia pandangi langit yg bertabur bintang itu dan
bulan yg bersinar terang, seolah berkata
“What the h*ll that you’ve done!!”
Ia melihat sebungkus rokok di lemari dekat meja. Ia pun
mengambilnya.
(Sudah lama y....)
Katanya dalam hati.
Fikry sudah lama berhenti merokok. Itu semua berkat seorang
wanita yg selalu ada di sampingnnya kala itu.
Ia berjalan membuka pintu balkon, lalu ditariknya sofa itu
mendekat ke balkon.
Fikry pun duduk dan akhirnya menyalakan rokok itu, lalu
mulai menghisapnya perlahan. Ia tak tahan lagi, kekacauan yg ada dipikarannya
saat ini memaksanya untuk menghisap beberapa batang rokok, hanya untuk
menangkan pikirannya yg sedang kalut
“(Maaf yah, ...
karena sudah melanggar janjiku sendiri...)”
Katanya dalam hati, sambil menghembuskan asap rokok bermerk
yg dulu sangat ia gemari.
Fikry duduk santai di atas sofa itu, kepala nya terasa berat
sekali.
Tak terasa satu bungkus sudah ia habiskan.
Ternyata itu belum cukup, ia mengambil satu bungkus lagi
dari lemari. Dia ingat dulu ia pernah men-stock rokok dalam jumlah banyak.
Menghisap rokok dan memandangi langit cerah di malam nan
sunyi itu membuatnya mengingat masa lalu.
Masa - masa indah bersama dengan “Dia”
Yang telah membuatnya berhenti merokok, meski sudah jadi
perokok aktif bertahun2.
Yang telah membuatnya selalu bangun pagi, meski sudah
bertahun2 malas.
Yang telah membuat hidupnya menjadi lebih berarti.
—- flashback —-
“Ssshhh....fuuuhhh...”
Fikry sedang asyik menghisap sebatang rokok di sudut teras
di depan sebuah rumah megah yg kerap ia kunjungi untuk menemui sang pujaan
hati.
Baru beberapa kali hisap, tiba2 saja ada yg mengambil rokok
dari tangannya.
“Ternyata...kamu sembunyi2 masih hisap rokok aja”
Kata seorang Wanita yg mengambil rokok itu
Fikry pun tekejut, sang pujaan hati sudah berada di
hadapannya. Ia terlihat kesal, lalu membuang puntung rokok itu.
“Mina ? ,,,
Ma..maaf Akuu...”
Kata Fikry, terbata bata. Ia tidak mengira akan terpergok seperti
ini.
Mina : “katanya, kamu udah berhenti merokok....”
Sambil cemberut menatap Fikry dengan tatapan yg tajam,
setajam SILET.
“Ok...ok...
Hhhhh....
Mulai hari ini, tidak...detik ini juga,
Aku berjanji padamu, aku, Fikry Permana, akan berhenti merokok
“
Jelas Fikry, sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Mina : “janji yaaa??”
Fikry : “iyaaa, janjiii”
Mina mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Fikry,
tanda ikatan janji ala2 sepasang kekasih yg dimabuk asmara.
“nahh, jangan cemberut lagi doonk,,,,tuh liat, pipinya makin
kaya bakpao..”
Rayu Fikry sambil menyibakan rambut poni Mina ke samping,
dan mengelus2 pipinya.
“iiihh, kamu mah...”
Mina tertunduk tersipu.
Keduanya pun kembali tersenyum dan bercengkrama, canda dan
tawa selalu menemani.
“Yuk, kita jalan sekarang”
Ajak Fikry yg sedari tadi sudah menggenggam erat tangan
Mina, tak mau lepas kaya lem.
Hari itu memang mereka berencana untuk pergi jalan berdua,
dengan mengendarai motor Fikry.
Baru beberapa langkah menuju motor, tiba2 saja Mina merasa
sakit kepala.
“Duuhh....”
Mina memgang kepalanya, terasa sakit sekali. Lalu, tubuhnya
terasa lemas
Fikry langsung memegang pundak Mina. Jika saja Fikry tidak
cepat menahan tubuhnya, Mina pasti sudah terjatuh.
Fikry : “Mina! Kamu kenapa??”
... Minaa! “
-to be continue-
No comments:
Post a Comment