Sunday, May 13, 2018

Cafe Hits

Don't Be Sad


- Episode 4 -



Malam semakin larut, kesunyian malam dihentakan dengan alunan jangkrik di sudut2 ruangan.

Di apartemen itu, Fikry tinggal sendiri. Ia duduk di salah satu sofa ruang tamu, lampu masih belum dimatikan.

Gelap dan sunyi nya malam kali ini tidak membuat Fikry merasa kantuk.

Meski sudah penat dan lelah, rasa kantuk dan keinginan untuk istirahat itu tak kunjung datang.
Ia malah dihampiri kekalutan dan kegundahan yang terus saja membebani hati dan pikirannya.

Sesekali ia pandangi langit yg bertabur bintang itu dan bulan yg bersinar terang, seolah berkata
“What the h*ll that you’ve done!!”

Ia melihat sebungkus rokok di lemari dekat meja. Ia pun mengambilnya.
(Sudah lama y....)
Katanya dalam hati.

Fikry sudah lama berhenti merokok. Itu semua berkat seorang wanita yg selalu ada di sampingnnya kala itu.

Ia berjalan membuka pintu balkon, lalu ditariknya sofa itu mendekat ke balkon.
Fikry pun duduk dan akhirnya menyalakan rokok itu, lalu mulai menghisapnya perlahan. Ia tak tahan lagi, kekacauan yg ada dipikarannya saat ini memaksanya untuk menghisap beberapa batang rokok, hanya untuk menangkan pikirannya yg sedang kalut

“(Maaf yah, ...
karena sudah melanggar janjiku sendiri...)”
Katanya dalam hati, sambil menghembuskan asap rokok bermerk yg dulu sangat ia gemari.

Fikry duduk santai di atas sofa itu, kepala nya terasa berat sekali.
Tak terasa satu bungkus sudah ia habiskan.
Ternyata itu belum cukup, ia mengambil satu bungkus lagi dari lemari. Dia ingat dulu ia pernah men-stock rokok dalam jumlah banyak.

Menghisap rokok dan memandangi langit cerah di malam nan sunyi itu membuatnya mengingat masa lalu.

Masa - masa indah bersama dengan “Dia”
Yang telah membuatnya berhenti merokok, meski sudah jadi perokok aktif bertahun2.
Yang telah membuatnya selalu bangun pagi, meski sudah bertahun2 malas.
Yang telah membuat hidupnya menjadi lebih berarti.


—- flashback —-


“Ssshhh....fuuuhhh...”
Fikry sedang asyik menghisap sebatang rokok di sudut teras di depan sebuah rumah megah yg kerap ia kunjungi untuk menemui sang pujaan hati.

Baru beberapa kali hisap, tiba2 saja ada yg mengambil rokok dari tangannya.

“Ternyata...kamu sembunyi2 masih hisap rokok aja”
Kata seorang Wanita yg mengambil rokok itu

Fikry pun tekejut, sang pujaan hati sudah berada di hadapannya. Ia terlihat kesal, lalu membuang puntung rokok itu.

“Mina ? ,,,
Ma..maaf Akuu...”
Kata Fikry, terbata bata. Ia tidak mengira akan terpergok seperti ini.

Mina : “katanya, kamu udah berhenti merokok....”
Sambil cemberut menatap Fikry dengan tatapan yg tajam, setajam SILET.

“Ok...ok...
Hhhhh....
Mulai hari ini, tidak...detik ini juga,
Aku berjanji padamu, aku, Fikry Permana, akan berhenti merokok “
Jelas Fikry, sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Mina : “janji yaaa??”
Fikry : “iyaaa, janjiii”

Mina mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Fikry, tanda ikatan janji ala2 sepasang kekasih yg dimabuk asmara.

“nahh, jangan cemberut lagi doonk,,,,tuh liat, pipinya makin kaya bakpao..”
Rayu Fikry sambil menyibakan rambut poni Mina ke samping, dan mengelus2 pipinya.

“iiihh, kamu mah...”
Mina tertunduk tersipu.
Keduanya pun kembali tersenyum dan bercengkrama, canda dan tawa selalu menemani.

“Yuk, kita jalan sekarang”
Ajak Fikry yg sedari tadi sudah menggenggam erat tangan Mina, tak mau lepas kaya lem.

Hari itu memang mereka berencana untuk pergi jalan berdua, dengan mengendarai motor Fikry.
Baru beberapa langkah menuju motor, tiba2 saja Mina merasa sakit kepala.

“Duuhh....”
Mina memgang kepalanya, terasa sakit sekali. Lalu, tubuhnya terasa lemas

Fikry langsung memegang pundak Mina. Jika saja Fikry tidak cepat menahan tubuhnya, Mina pasti sudah terjatuh.

Fikry : “Mina! Kamu kenapa??”
... Minaa! “



-to be continue-


No comments:

Post a Comment