—- flashback —-
Mina : “kamu masih inget sm lagu kesukaanku?” Mina sangat senang karena Fikry ingat dengan lagu itu, ditambah lagi dinyanyikan oleh sang pemilik hati khusus untuknya.
Fikry : “ga mungkin ak lupa sayang,,,
Lagipula, ak juga suka lagu itu.
Sini makan buahnya lg,,,
Ak kupasin apelnya y”
Jawab Fikry, ia mengambil sebuah apel Fuji segar yg brrwarna kuning kemerahan dan mulai mengupasnya. Dia tau kalau Mina tidak suka kulit apel, karena sering tersedak dengan kulit apel itu.
Mina memakan potongan apel satu demi satu.
“Oia,,,kamu kok ga berangkat ke kantor sayang?”
Tanya Mina, heran. Harusnya jam segini Fikry sudah rapi dengan kemeja formal nya.
Tapi hari ini, dia datang menjenguk hanya berpakaian santai, mengenakan kaos dan celana chinos berwarna terang.
“Nnnggg...anu..
Aku...”
Fikry tidak bs menjawab. ia bingung bagaimana harus menjelaskannya. Tidak mungkin ia harus jujur dan bilang bahwa ia sudah tidak bekerja lagi di Perusahaan ayah Mina.
Fikry takut kalau ia berkata jujur kepada Mina, hal itu justru akan membuat kondisi kesehatannya bertambah buruk.
Dokter yg merawat Mina sudah mewanti-wanti kepada orang tua Mina dan juga fikry, bahwa Mina harus terus disupport, harus terus diberi dukungan.
Dokter itu juga bilang bahwa Mina tidak boleh down dan banyak beban pikiran karena hal itu justru akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatannya.
“Apaa....?
Kenapa kamu ga jawab?...
...”
Tanya Mina, heran. ia melihat wajahnya Fikry yang tampak kebingungan, matanya tidak berani menatap langsung Mina.
“Ada yang kamu sembunyikan ya...?”
Lanjut Mina.
“Oh,,,,ga kok,,,
Aku,,cumaa,,,”
Fikry bingung harus mencari - cari alasan lain.
cekreek tiba - tiba terdengar suara pintu terbuka. Percakapan Fikry dan Mina terhenti lalu menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang masuk.
Rupanya yang masuk adalah kedua orang tua Mina. Mereka masuk dengan membawa belanjaan beriisi roti dan makanan lainnya.
“Assalamu’alaikum”
Sapa mereka seraya masuk ke ruang rawat Mina.
Fikry : “ wa’alaikumussalam....
pagi om, tante”
Mina : “ayah, ibu...kok baru datang sekarang?”
Tanya Mina yang sedari tadi menunggu kedatangan kedua orang tuanya. Perutnya sudah lapar, menanti bubur ayam kampung favorit nya yang kemarin dijanjikan akan dibawa oleh mereka.
“Aku udah lapar nih..”
Meskipun bilang lapar, Mina masih saja mengunyah apel yang tadi sudah dikupas kulitnya oleh Fikry.
Fikry cuma senyam senyum saja melihat Mina yang kelaparan. Tandanya ia tidak kehilangan nafsu makan, dan itu bagus agar bisa cepat pulih.
Si Ayah datang dengan memakai kemeja biru setelan lengkap dengan jas nya. ia sudah siap untuk berangkat ke kantor dan memang berencana untuk pergi ke kantor setelah menjenguk putrinya.
Sementara si ibu mengenakan blouse lengan panjang dan jilbab yang tidak panjang berwarna coklat muda, lengkap dengan bros silver yang diberi pernak pernik.
Rencananya, mereka akan sarapan bersama dengan putrinya di sini. Setelah itu, si ayah akan langsung berangkat ke kantor dan si ibu tetap menemani putrinya di ruang rawat tersebut.
Baru saja masuk ruangan, ayah Mina sudah ingin berbalik badan, beranjak kembali pulang.
“lhoo, sudah ada Nak Fikry rupanya, ayo Bu, kita balik lagi saja”
Ajak sang ayah kepada si ibu sambil melirik ke arah putrinya yang sedang disuapi okeh Fikry.
“Iya nih,,,kita pulang lagi yuk”
Jawab manja si Ibu.
“Ayaah, ibuuu...jangan gitu ah, becanda melulu”
Sahut Mina, ia tersipu malu digoda oleh kedua orang tuanya.
Fikry menghentikan menyuapi Mina, dan menaruh kembali buah apel dan jeruk yang belum habis itu di atas meja.
Orang tua Mina pun tertawa dan kembali masuk ke dalam ruangan. Mereka memang biasa seperti itu, sering menggoda putri kesayangan mereka satu - satunya khususnya apabila tercyduk sedang bermesraan dengan Fikry.
Mereka pun kembali masuk ke ruangan, dan menaruh barang bawaan mereka di atas meja makan besar di dekat sofa berwarna coklat panjang yang memang disediakan untuk penjenguk.
Si Ibu memasukan beberapa barang bawaannya, seperti susu dan jus sari buah, ke dalam kulkas 2 pintu yang terletak di samping sofa itu. Tidak lupa, ia mengambil beberapa mangkuk beserta gelas dari tempat piring mini di sebelah kulkas dekat pojok ruangan.
Di situ juga terdapat termos listrik kecil dan beberapa sachet teh, kopi, lengkap dengan gula dan krimer nya.
Sementara si ibu menyiapkan sarapan bubur ayam dan teh jasmine hangat kesukaan suami, si ayah datang menghampiri Mina.
“Pagi putriku cantik,,,
Gimana hari ini? Sudah lebih baik?”
Tanya si ayah, seraya mengecup kening putrinya dan mengusap - usap kepala nya.
Mina : “Jauh lebih baik dari kemarin, ayah”
Ayah Mina : “alhamdulillah”
ia mengambil kursi di dekat meja makan besar itu dan menaruhnya di samping tempat tudur Mina, bersebelahan dengan Fikry, lalu duduk.
Mina : “ayah liat tuh, manajermu... sudah jam segini belum juga berangkat”
Melirik ke arah Fikry.
Ayah Mina hanya tersenyum, lalu menepuk - nepuk pundak Fikry.
“Khusus untuk hari ini tidak apa -apa terlambat.”
Jawabnya
Fikry merasa lega, karena ia terselamatkan dan tidak perlu mencari - cari alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
“Yaudah, ak balik dulu ya sayang,,,
Harus siap2 ke kantor sebelum ditegur sama direkturnya”
Fikry pamitan dengan Mina dan kedua orang tuanya lalu bergegas pergi keluar ruangan.
“Ayah keluar sebentar ya”
Kata Ayah Mina, lalu beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi.
Ibu Mina : “lho, mau kemana? Ini teh nya udah siap”
Menaruh secangkir teh hangat beserta piring wadahnya di atas meja.
Ayah Mina : “mau beli ...
koran, tadi lupa”
Si Ayah pergi ke luar ruangan. Rupanya ia bergegas untuk menyusul Fikry yang sudah pergi terlebih dulu.
Ayah Mina : “Fik,,Fikry !! Tunggu sebentar Nak”
Memanggil Fikry yang berada tidak jauh dari hadapannya.
“Ya ... Om Nas? “
Ayah Mina bernama Nasrudin.
Fikry lalu menoleh. Dilihat dari gerak geriknya sepertinya Ayah Mina ingin membicarakan sesuatu.
“Ada apa om?”
Ayah Mina : “ada yang ingin saya bicarakan...kita sambil jalan saja”
Jawabnya, sambil berjalan santai menuju pintu keluar, menyusuri lorong rumah sakit yang sudah mulai ramai dengan lalu lalang perawat dan pasien.
(Ada yang ingin dibicarakan? Ada apa? raut wajah Ayah Mina seperti sedang kacau) kata Fikry dalam hati, yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Ayah Mina yang tidak biasa.
Mereka pun berjalan perlahan, sambil berbincang.
Ayah Mina : “ini sudah yang kesekian kalinya Mina harus dirawat di Rumah Sakit...
...
Mungkin sudah hampir 20kali”
Fikry pun hanya bisa terheran sekaligus sedih mendengar cerita itu.
(Sebanyak itu?? Padahal ini kali ke-6 aku menjenguknya.
aarrghhh,,,,cwo macam apa aku ini, masa aku tidak tau) kata Fikry dalam hati. ia baru tau kalau Mina rupanya sudah sering sekali keluar masuk rumah sakit sejak lama. Bahkan sebelum mereka memiliki hubungan yang dekat seperti sekarang.
Ayah Mina, Nasrudin, melanjutkan ceritanya. Suaranya sudah mulai parau, menahan rasa sedih yang tiba tiba datang.
Ayah Mina : “sudah lama Nak,,,
,,,
Penyakit yang diderita Mina itu sudah lama”
ia pun menghela nafas panjang, lalu melanjutkan ceritanya.
“....
Hanya saja,,
Dulu intensitasnya tidak seperti sekarang ini,,,,
,,,
Sekarang terlalu sering”
Beliau merunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesaat setelah itu, Fikry mendengar beliau beristighfar dengan suara yang semakin lirih astagfirullah
Mendengar hal itu, Fikry semakin sedih dan khawatir dengan kondisi Mina.
(Ada apa ini? Mengapa aku baru tau? Mengapa seolah ini dirahasiakan dariku?) kata Fikry, dalam hati.
Pertanyaan2 itu terus berkecamuk dalam hatinya.
Mereka terus berjalan, sampai akhirnya tiba di lantai dasar, di ujung lorong rumah sakit dekat Lobby.
Kemudian, datang seorang laki - laki dengan mengenakan kemeja kantoran lengkap dengan jas hitam elegan nya menghampiri mereka.
Cwo : “Pagi, Om Nas”
-to be continue-
No comments:
Post a Comment