- Episode 10 -
‘TING!!’ bunyi suara bel menggema di ruangan utama cafe, penanda makanan hangat kreasi cheff sudah ready dan siap dihidangkan kepada pelanggan. Lutfi yang keheranan melayangkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, mencari-cari kemana kiranya rekan-rekan tercintanya yang tidak ada dimanapun. Kosong. Tersisa Vya, si kasir yang tetap setia dengan posisinya dan Ainun yang duduk diam di pojok ruangan.
‘TING!!…TING!!’ suara bel kembali menjadi perhatian 2 orang pelanggan, mereka manatap mantap ke arah suara itu berasal, yakin bahwa itulah pesanan yang mereka tunggu sejak tadi.
Lutfi beberapa kali menekan bel itu, berharap Ainun menghampirinya dan mengambil makanan pesanan pelanggan yang sejak tadi menganggur. Tak digubris, Ainun tetap saja duduk diam sambil menatap layar hp-nya. Sebuah pesan Whatsapp dari Fandy bertuliskan ‘maaf 🙏🏻 baru bangun hehe, aku langsung otw kesana ini. Tunggu yaa’ muncul di notifikasi.
Terganggu dengan suara bel yang dibunyikan Lutfi tiada akhir, Vya pun menghampiri dan tanpa berkata apapun langsung mengambil makanan itu lalu disajikan ke pelanggan. Meskipun duo pelanggan ini sudah gelisah dan raut wajah kekecewaan tak mampu ditutupi, namun begitu mencicipi masakan, hilang seketika rasa kecewa itu berganti senyum sumringah, amazed dengan aroma harum serta rasa makanan yang disuguhkan. ‘Nikmat! Worth it!’ kurang lebih seperti itulah kata yang terucap. Lutfi diam-diam mencuri pandang dari balik meja kasir, tersenyum lega memperhatikan dengan seksama ekspresi dan gerak bibir duo sejoli pelanggan itu sebelum akhirnya baranjak kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya. Meski tidak terdengar jelas apa yang mereka bicarakan, namun rasa kepuasan mereka yang terpancar dapat ia rasakan.
“Ok,,kira-kira setengah jam lagi saya sampai. Saya tunggu disana ya.” Terdengar suara percakapan Pak Bastian dengan rekannya, kemudian berjalan menghampiri Vya di meja kasir.
“Sepi,, kemana yang lain, Vya?”
“Keluar Pak,,kalau saya tidak salah dengar, mereka ingin menjenguk Pak Fik” jelas Vya yang tidak pernah sekalipun meninggalkan posisinya dan menyimak dengan khidmat segala drama yang terjadi. Vya memang bukan pembicara aktif, namun ia adalah sosok pendengar yang baik.
“Oohh, baiklah. Titip pesan ke Rizkan, belikan singkong goreng merkah ya,,singkong dekat situ enak tuh”
Sebenarnya sudah sedari tadi Pak Bastian mencari dimana sosok OB ini, karena sudah waktu nya untuk menyantap snack siang.
Bukannya mengkritik ulah OB dan karyawannya yang pergi meninggalkan pekerjaan tanpa ijin, malah kepikiran kira-kira jajanan enak apa yang ada di sekitar apartemen Fikry. Mungkin keluhan itulah yang sering terbesit di dalam benak seorang perfeksionis seperti Vya. Ia bukan cepu yang suka mengeluh dan mengadu ke atasan. Namun Vya adalah full introvert, sulit untuk mengungkapkan apapun itu yang ada di dalam benaknya. Keluhan-keluhan itu tetap berkecamuk di dalam hatinya, tanpa terbaca.
Begitulah sosok seorang pemilik cafe ini, wajar jika para karyawan betah dan mengidolakannya, karena baginya masalah sepele seperti ini tidak perlu diperpanjang. Toh ia percaya kalau tidak ada keperluan apa-apa, mereka tidak akan pergi begitu saja.
“Baik Pak,,Bapak mau keluar juga?”
“Iya,,saya ada perlu nih. Ga lama kok, paling sampe sore”
“Langsung pulang juga gapapa kok Pak,, kan bapak pemiliknya, hehe” jawab Vya. ‘Aneh kenapa jadi pemilik yang terkesan seperti minta ijin ke karyawan sih’ benak Vya kembali berkata-berkata. Merenungkan, membahas tanpa harus diungkapkan.
“Iya juga yak 😅” jawab Pak Bastian sambil melihat pesan WA dari rekannya. Ada proyek bisnis yang sedang ia rencanakan dengan rekannya tersebut. Dengan tatapan penuh keyakinan dan sedikit senyuman ia membalas pesan WA itu seraya melangkah ke arah pintu keluar.
Sesaat setelah mobil Pak Bastian berlalu, Fandy dengan motor Scoopy brown dan sepasang helm cargloss hitamnya tiba. Masih dengan jaket dan helm yang tidak sempat ia lepaskan, Fandy langsung masuk terburu-buru menghampiri Ainun di pojokan.
“Sudah jam berapaa inii??” Sahut Ainun, cemberut. Make up ala-ala, cosplay salah satu karakter game jejepangan (sesuai request Fandy) sudah mulai luntur dengan tetesan air mata kekesalan. Ia tidak mau menatap langsung Fandy yang duduk berhadapan dengan Ainun, wajah nya menoleh ke arah lain.
“Maap, maap,,,,aku habis nugas semalam, makanya kesiangan 😅”
Jelas Fandy, berusaha keras memberikan penjelasan logis layaknya seorang mahasiswa. Walaupun kenyataan yang sebenarnya adalah Fandy dan geng kelasnya nge-game, push rank all night long sampai mythic.
Ainun masih tetap tidak menerima, apapun alasannya Fandy sangat telambat dan menunggu terlalu lama itu sangat tidak enak. Meskipun dalam beberapa kesempatan yang telah lalu, Fandy lah yang tanpa mengeluh (sambil menonton anime, atau nge-game tentunya) selalu menunggu lama sekali agar Ainun bersiap-siap dengan kostum cosplay-nya.
“Waduh gawat ges,,pemeran utamanya sedang mood swing” Fandy berbisik ke arah handphone di saku kemeja flanel kotak-kotak bernuansa hijau army miliknya. Jaket hitam polosnya tidak di-resleting, dibiarkan terbuka agar tidak menghalangi kamera HP itu. tetap merekam, walau diam-diam. Sebagai vlogger sejati dan channel yang sedang naik daun, Fandy tidak mungkin melewatkan kesempatan emas kali ini, melanjutkan drama live action yang ia rekam sebelumnya.
Rencana awal yang telah disusun adalah siaran live, merekam aksi dan berbagai pose Ainun lengkap dengan kostum salah satu karakter game jejepangan-nya. Ditambah lanjutan drama yang out of no where, tiba-tiba saja terjadi sebelumnya di cafe, tentunya akan dipandu dan dijelaskan oleh pemeran utama, Ainun the kawaii-handmaiden(julukan yang ditulis dalam deskripsi karakter dalam channelnya).
“Eh, btw,,,aku punya ini lhoo. Acaranya masih 1bulan lagi, kesana bareng yuk”
Rayu Fandy sambil menunjukkan 2buah print out tiket bertuliskan ‘tsuteki da ne, live concert’, sebuah pertujunkuan musik live yang didedikasikan bagi para fans dari one of most favourite game ever.
“Ini kan….” Perhatian Ainun mulai teralihkan, menatap fandy seolah tak percaya dan menerima tiket itu dari Fandy.. “Kok kamu bisa dapet sih?” Ainun mulai tersenyum gembira, kesenduan dan kekesalan sudah tak nampak di wajahnya. Ia kini merasa senang sekali, tiket konser yang ia nanti-nantikan telah ada di tangannya. Bukan tanpa alasan, live concert ini terbilang sangat laris, bahkan beberapa bulan sebelumnya, tiket itu sudah terjual habis. Tersisa hanya yang dijual oleh beberapa orang makelar yang memang dibeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali dengan harga yang relatif sangat mahal. Tak ayal, Ainun yang sejak awal menanti-nantikan adanya konser ini, dan harus mengurunkan niatnya karena tidak mendapat tiket, menjadi riang gembira.
“Aku beli dari teman-teman komunitas di kampus” yup, Fandy adalah anggota dari komunitas waifu di kampus nya. Komunitas yang sangat aktif dalam bebrbagai event jejepangan, khususnya yang berkaitan dengan game Jepang dan anime.
Fandy sudah menyiapkan ini sejak awal, untuk surprise ke Ainun nanti. Tapi, karena kejadian ini Fandy mau tidak mau harus mengeluarkannya sekarang to save the world.
Selesai sudah urusan mood swing the handmaiden ini, Ainun sesekali humming penggalan salah satu lagu yang akan dikonserkan itu saking gembiranya. Melihat Ainun yang kegirangan, Fandy cengar-cengir ikutan bahagia, memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mengikuti alunan humming itu.
Setelah menjelaskan segala sesuatu yang terjadi selama Fandy belum tiba di cafe, Ainun dan Fandy segera berangkat menyusul Rizkan dan Bella yang saat ini mungkin sudah sampai di Apartemen Fikry.
Sesaat sebelum men-starter motor, tak lupa Fandy menyapa para viewers vlog yang kian bertambah
“Ok gaes,,kita akan lanjut ke TKP” Ainun tak mau kalah, tetap berpose di belakangnya.
Kini di cafe tinggal Vya, setia dengan mesin kasirnya, dan Lutfi, menyeruput secangkir kopi hitam hangat, menunggu jika ada pesanan berikutnya dari pelanggan.
‘Bisa-bisanya langsung cengar-cengir, padahal tadi bete banget’ benak Vya kembali menggerutu melihat reaksi Ainun tadi. Bukan iri, melainkan dalam kisah hidupnya Vya tak pernah mengalami hal itu. Flat atau datar-datar saja, tidak ada yang menarik. Vya lebih asyik berjibaku dengan kata-kata terpendam hatinya, dibanding jika diungkapkan.
Fajar semakin meninggi, sudah masuk waktu siang nampaknya. Gumpalan awan Cumulo Nimbus perlahan bermunculan, gerombolan awan kelabu di ufuk timur pun kian mengiringi, menghampiri jiwa-jiwa yang rindu setiap tetesan pembawa berkah. Memberi kesejukan dan ketenangan bagi sebagian, menemani kepedihan dan kesenduan bagi yang lain.
Kecerahan hari ini takkan bertahan lama, begitu pikir Fikry, tubuhnya terlentang di lantai kamar sementara pandangannya tertuju pada langit, mengamati kekosongan.
Ruangan ber- AC itu kini penuh sesak dengan bekas kepulan asap rokok. Gorden balkon dan jendela dibiarkan terbuka, entah karena sesaknya asap atau keinginan untuk menghirup udara segar.
Puntung tembakau itu berserakan di meja, wadah penampungnya sudah tak sanggup lagi menampung puntung-puntung yang sudah menggunung. Beberapa dus rokok kosong dibiarkan berserakan begitu saja di atas meja, sementara sebagian besar lainnya sudah berada di box sampah mini di antara lemari dan meja itu. Entah sudah berapa bungkus rokok yang telah ia habiskan.
Keheningan siang itu mulai terusik dengan sayup-sayup suara yang mulai menjadi perhatiannya. Tak lama kemudian, Fikry mulai tersadar dari lamunannya, terbangun, duduk. Menoleh ke belakang, arah suara ketukan, atau lebih terdengar suara gedoran pintu itu, bersamaan dengan seruan namanya.
Rizkan menggedor-gedor pintu, berkali-kali menyerukan nama Fikry, tetapi tetap tidak ada jawaban dari dalam.
“Mungkin pak Fiik tidur, Riz” sahut Bella di sisi Rizkan.
Kekhawatiran Rizkan semakin menjadi.
“Biar kudobrak saja”
“Eh, nanti,,jangan,,,,,” ucapan Bella terhenti, ketika Rizkan tanpa pikir panjang, langsung mencoba masuk dan ternyata memang tidak dikunci.
Sisa-sisa kepulan asap rokok menyeruak seketika pintu itu dibuka.Rizkan dan Bella berjalan perlahan, menyusuri lantai kamar apartemen itu. Sisa abu rokok yang beretebaran, baju-baju bekas yang berserakan di lantai, serta ranjang dan bed cover yang jauh dari kata rapih seolah mendekorasi seisi ruangan. Di ujung sana, di balkon yang terbuka, Fikry duduk menatap mereka tanpa kata. Semakin khawatir Rizkan jadinya, ‘Apa gerangan kiranya yang terjadi pada mantan teman sekelasku ini’.
Emosi Rizkan membuncah, ditariknya kerah kemeja Fikry. Dengan genggaman erat Rizkan membentaknya, serasa kembali ke jaman sekolah dulu dimana Rizkan adalah layaknya seorang jagoan di kelas.
“APA YANG TERJADI PADAMU FIKRY!?” Surat Mina yang sedari tadi dibawa Rizkan dilempar di hadapan Fikry.
Bella hanya bisa menangis, tak mampu menghalangi rekannya yang sudah siap menghajar habis Fikry.
Rizkan kembali menarik keras kerah baju Fikry ke arahnya, seraya mengangkat kepalan tangan kanannya, siap melancarkan serangan.
“Apa kau tahu dia akan pergi dari dunia ini selamanya??” Tanya Rizkan, menatap tajam Fikry yang diam tanpa kata.
- To be continue -
No comments:
Post a Comment