— flashback —
Mereka terus berjalan, sampai akhirnya tiba di lantai dasar, di ujung lorong rumah sakit dekat Lobby.
Kemudian, datang seorang laki - laki dengan mengenakan kemeja kantoran lengkap dengan jas hitam elegan nya menghampiri mereka.
Cwo : “Pagi, Om Nas”
Om Nas : “eh, Nak Revan.
Kamu baru datang?”
Jawab Om Nasrudin, menyambut hangat Revan yang datang
menghampiri.
Revan : “halo, Fik”
Fikry : “hai...”
Fikry dan Revan berjabat tangan dan saling menyapa. Namun,
Fikry terlihat tidak senang.
“kamar Mina dimana ya Om?”
Tanya Revan, antusias
“Lt.5 di Ruang Cempaka,
lorong ini lurus saja, nanti ada lift, terus ada petunjuk
arah ruang cempaka”
Jawab Om Nas.
Fikry melihat, ekspresi Ayah Mina ketika Revan datang sangat
senang sekali.
Revan pun langsung berlalu dengan membawa tentengan berupa
parcel buah - buahan yang dikemas dengan mewah.
(“Revan ya,,,,sering liat dulu pas di kantor...
Untuk apa dia bawa2 buah segala? Ga tau apa, aku cwonya
sudah jenguk dan bawa buah?”)
Kata Fikry dalam hati. ia tidak terlihat senang ketika
melihat Revan datang. Tatapan matanya yang tajam terus memantau Revan dari
kejauhan, sampai tidak terlihat lagi.
Dulu sewaktu Fikry masih bekerja di kantor Ayah Mina, ia
pernah beberapa kali bertemu dengan Revan. Awalnya dia berpikir bahwa Revan
hanyalah rekan bisnis biasa yang datang ke kantor untuk meeting dengan Om Nas.
Tetapi lambat laun, Fikry sering melihat Dia menaruh perhatian terhadap Mina.
Mina, dalam beberapa kesempatan, pun sering bercerita kalau
Revan selalu perhatian kepadanya. Tapi, Mina selalu tidak berpikir yang aneh2
terhadap perilaku Revan.
Mina menganggap Revan hanya teman biasa, sekaligus rekan
bisnis yang bersahabat. Mina berpikir bahwa harusnya Revan sudah tau bahwa ia
sudah memiliki sandaran hati, yaitu Fikry. Jadi, Revan tidak mungkin ada
maksud2 tertentu.
Berbeda halnya dengan Fikry. ia kerap cemburu dengan Mina,
ketika Revan datang atau bertamu ke rumah Mina. Revan juga kerap datang ke
kantor Ayah Mina, Fikry tidak percaya kalau itu semua hanya urusan bisnis.
Menurut Fikry, Revan pasti datang untuk menemui Mina, yang
memang menjabat sebagai salah satu manajer di kantor ayahnya, dengan berbagai
macam alasan alias modus.
Belum lagi belakangan ini, sambutan Om Nas setiap kali Revan
datang begitu hangat, sangat menerima.
Pernah suatu kali, Mina dan Fikry sudah memiliki janji untuk
makan malam bersama di luar. Tetapi, Revan datang ke rumah Mina dan mengajak Om
Nas dan Mina makan malam bersama. Revan beralasan bahwa ada proyek yang bonafit
dan perlu segera dibahas. akhirnya, janjian dinner Fikry dengan Mina terpaksa
batal.
Tak lama kemudian, Revan pun tiba di ruang Cempaka tempat
Mina dirawat inap. Setelah mengetuk pintu dan memberi salam, ia masuk ke dalam
ruangan dan melihat hanya ada Mina sendirian di ruangan.
“Assalamu’alaikum,,
Hai Mina”
Sapa Revan tatkala memasuki ruangan dengan senyuman
sumringah khasnya.
“Wa’alaikumussalam,,
...
Revan?”
Jawab Mina, ia tak menyangka Revan akan datang menjenguk
untuk yang kesekian kalinya.
Mina tak berharap Revan akan datang kali ini. ia menjadi
merasa tidak enak dengan Revan, karena selama ini tak pernah peduli dengan
Revan.
Tetapi sebaliknya, Revan selalu peduli dengannya.
Walaupun selama ini memang Mina tidak ingin memberikan
celah, atau harapan untuk Revan mendekatinya.
Revan masuk, meletakan parcel buah besar yang dibawanya itu
di atas meja makan, lalu ia duduk di samping Mina, tempat yang sama dengan
Fikry duduk tadi.
Revan menanyakan tentang kondisi Mina dengan antusias.
“Gimana kondisimu sekarang Mina?”
Mina : “sudah lebih baik kok”
Jawabnya, datar tanpa ekspresi.
Revan : “kamu pasti kurang istirahat lagi kn? Bandel sih...”
Mina : “iyaaa, mau gimana lagi? Hidupku kn ga cuma di kamar,
istirahat melulu...”
Jawabnya tanpa menatap Revan, ngambek.
(Kenapa tanya2 sih) kata Mina dalam hati. ia masih merasa
agak tidak suka ditanya2 oleh Revan.
Revan : “(menghela napas panjang)
...
Kamu tuh ya !...
Paling suka bikin orang lain khawatir ... “
Revan menatap tajam ke arah Mina, dia mulai berbicara dengan
nada suara yang serius.
Mina menoleh dan menatap Revan. ia melihat raut wajah Revan
yang sangat khawatir. Mina belum pernah melihat Revan seperti itu sebelumnya.
Mina : “....”
“Kamu tidak lihat gimana cemasnya Ayahmu, ibumu, dan
orang-orang terdekatmu ?? “
Lanjut Revan, nada suaranya agak sedikit tinggi. Itu semua
ia lakukan agar Mina tidak lagi melanggar anjuran dokter.
“Kami semua khawatir Mina...
....
Jadi tolong....
Minum obat yang teratur dan banyak istirahat,,,
Ikuti apa kata dokter
... “
Mina : “ ........ “
Mina tak mampu berkata apa-apa, ia hanya melihat Revan dan
memikirkan tentang semua yang dikatakan Revan
Revan terlihat sangat menggebu-gebu ketika menasihati Mina yang
memang suka melanggar aturan dokter.
Mina melakukan hal itu karena sudah bosan dengan semua
pengobatan yang rutin ia jalani, namun tak kunjung memberikannya kesembuhan.
Setelah mendengar itu semua, hati Mina mulai merasa luluh.
ia tak pernah berpikir bahwa Revan ternyata sepeduli itu dengannya.
Mina : “ ......
Iyaa,,,Maaf”
Mina pun tersenyum manis, dan meminta maaf kepada Revan.
“Aku janji deh, mulai hari ini akan nurut sama dokter”
Lanjutnya.
Mina menatap dalam mata Revan, tersenyum lalu berkata:
“Biar orang tua aku, ....
Dan orang lain di sekitarku,,
Yang menyayangiku,,, tidak lagi khawatir,,,
Termasuk kamu ....”
Revan mulai salah tingkah, dan mengalihkan pandangannya dari
Mina.
“......
Oh iya,,,aku tadi bawa buah,
Buat kamu,,,
Dimakan yah “
Jawab Revan tanpa menatap Mina. ia terlihat gugup, dan
sesekali membenarkan kaca mata bergagang hitamnya. Padahal posisi kacamata nya
baik-baik saja.
Mereka berdua terdiam sejenak, tanpa sepatah katapun
terucap. Suasana hening nan awkward.
(Duh, kenapa aku harus bilang kayak gitu ke Revan, jd
bingung kn mau ngomong apalagi.)
Kata Mina dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara dering telpon dari hp Revan yang
sejak tadi digenggamnya.
Revan : “ya halo ...
....
Oh! Iya maaf....
Saya lupa”
Revan menjawab telpon tersebut lalu melihat jam tangan mewah
nya yang dikenakan di tangan kiri.
“Jam berapa meeting nya?
....
Ok ok, saya langsung kesana
... tunggu ya
...
Ok makasih”
Revan terlupa bahwa ada meeting di salah satu perusahaan nya
yang harus ia hadiri.
Revan merasa terselamatkan oleh telepon tadi dari suasana
hening tadi. Otomatis, dia harus segera beranjak dari sana agar dapat
menghadiri meeting tepat waktu.
Revan bangun dari kursinya, lalu berpamitan dengan Mina.
“Mina, maaf aku harus ke kantor sekarang...
Aku lupa ada meeting nanti siang”
Mina : “iya gpp”
Revan : “ibumu tidak datang?”
Jawab Revan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. ia baru
sadar sedari tadi hanya bertemu dengan ayahnya Mina di lobby Rumah Sakit dan
belum bertemu dengan ibunya Mina.
“oh, ada kok, tadi lagi keluar sebentar”
Jawab Mina.
Revan : “yasudah, salam buat ibumu ya”
Mina : “iya, nanti aku sampaikan”
Revan pun bergegas keluar ruangan dan sibuk men-check WA di
hp nya. Dia benar2 lupa agenda kantor hari ini. Baginya menjenguk Mina jauh
lebih penting, sehingga dia melupakan urusan kantornya.
Sementara itu, di bagian ruangan lain Rumah Sakit. Ternyata
Ibu Mina sedang menanyakan terkait biaya Perawatan Mina di bagian administrasi.
“Apa ?? ...
sudah lunas semua ?? “
Jawab Ibu Mina, terheran - heran.
Ibu Mina datang ke bagian administrasi untuk mengurus
perihal biaya Rumah Sakit. Namun ia terkejut, karena semua biaya sudah terbayar
lunas.
Semua lunas termasuk seluruh tunggakan biaya Rumah Sakit.
Kebetulan pemilik Rumah Sakit kenal dekat dengan Nasrudin, ayah Mina. Sehingga
meskipun tidak mengapa meskipun biaya perawatan Mina belum dibayar dan
menunggak.
Rumah Sakit ini memang terkenal bagus dan memiliki peralatan
yang lengkap. Tak ayal apabila biaya perawatan di Rumah Sakit ini harganya
selangit. Namun itu semua diimbangi dengan profesionalisme tenaga kesehatan dan
fasilitas pengobatan yang lengkap.
Mina selalu dibawa ke Rumah Sakit ini untuk perawatan.
Tetapi karena terlalu sering, biaya yang harus dikeluarkan pun sangat besar dan
tidak jarang Orang tua Mina harus menunggak.
“Coba cek lagi mba,,,
Ga mungkin lunas semua,,,
Soalnya kami memang belum bayar”
Kata Ibu Mina yang masih tidak percaya dengan jawaban admin.
Mba Admin : “sudah Bu, ini sudah kelima kalinya saya cek.
Semuanya sudah lunas Bu,
Sudah ada yang bayar”
-to be continue-
No comments:
Post a Comment