Tuesday, September 18, 2018

Cafe Hits - Don't be sad -


- Episode 8 -




— Flashback —



Setelah puas bertanya kepada pihak admin Rumah Sakit, Ibu Mina beranjak kembali ke kamar Mina.

Sepanjang perjalanan, menyusuri koridor rumah sakit itu, si Ibu masih saja memikirkan dan bertanya-tanya,,siapa gerangan yang membayar lunas semua biaya pengobatan Mina??

Tapi di sisi lain, ibu Mina sangat bersyukur. Padahal niatnya ke bagian admin tadi selain untuk menanyakan biaya pengobatan yang harus dibayar juga untuk memohon keringanan agar tagihan kali ini (seperti juga yg sebelumnya) dapat dilunasi di lain waktu.

“Pagi Tante...”
Ternyata tanpa disadari, sosok Revan sudah berdiri di depan Ibu Mina dan menyapanya.
Rupanya di tengah perjalanan, ibu Mina bertemu dengan Revan yang ketika itu hendak menuju pintu keluar Rumah Sakit.

Ibu Mina : “Nak Revan? Abis darimana?”

Revan : “ini tadi aku baru aja jenguk Mina, sekarang mau balik ke kantor”

Ibu Mina : “oohh,,,kok buru2?”

Revan : “iya tante, kebetulan ada meeting...aku duluan ya tante.
Permisi, assalmu’alaikum”

Ibu Mina : “iya iya,,
Wa’alaikumussalam....”
Jawabnya sambil memandang Revan seiring ia berlalu.

Revan terlihat tergesa-gesa, sesekali ia melihat jam tangan dan mempercepat langkahnya. Ketika akan sampai di lobby Rumah Sakit secara tidak sengaja ia melihat sosok Fikry dan om Nas yang masih berbincang di salah satu lorong Rumah Sakit yang sepi dekat lobby itu.

Revan merasa tidak enak jika harus pulang begitu saja tanpa pamitan, jadi dia memutuskan menghampiri mereka untuk berpamitan dengan Om Nas.

Namun beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti. ia menyadari sedang terjadi perdebatan sengit antara Fikry dan Om Nas.

“Ga ....
Ga mungkin om ! ... “
jawab Fikry, tegas.
Raut wajah nya terlihat kecewa sekaligus marah.

Terlihat Om Nas pun tidak terlihat senang. Nada suaranya meninggi dan sedikit kesal
“Tolonglah Fik ! ... “

“Ga ...
Aku ga bisa ...
... “
Tegas Fikry sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Tangannya memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing setelah mendengar permintaan Om Nas.
“Aku cinta sama Mina Om !,,,
....
Ga !! ....
Aku ga bisa melakukan apa yg Om minta ! “

Om Nas terlihat terus memberikan penjelasan kepada Fikry agar dia mau mengerti dan memahami alasan dibalik permintaan Om Nas.
“Ini demi kebaikan Mina !! “
Tegas Om Nas.

“Apa salahku Om ?!
Apa salahku ?!! ....
Sampai aku harus meninggalkannya ?!! .... “

Fikry sangat tidak terima dengan keputusan Om Nas. Sepengetahuannya ia tidak pernah melakukan kesalahan yg membuat orang tua Mina kecewa atau semacamnya. Semua berjalan baik-baik saja pada awalnya.

Revan yg berada tidak jauh dari sana otomatis, secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Meskipun dia tau itu bukan urusannya, tapi mendengar berita itu tentu cukup membuatnya terkejut.

(Apakah selama ini hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Mina??)
(Mungkinkah mereka akan berakhir??)
(Apakah ini peluang bagiku??)
Pertanyaan2 itu terus menggema didalam pikiran Revan.

Selang beberapa menit kemudian, Om Nas menyadari kehadiran Revan yg berdiri tidak jauh dari mereka. Om Nas pun menghentikan pembicaraannya dengan Fikry dan berpura-pura tersenyum ke arah nya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Oh, ma,maaf Om Nas klo aku mengganggu percakapan kalian.
... “
kata Revan, ia menyadari seketika Om Nas melihatnya percakapan mereka langsung terhenti. Hal itu semestinya adalah rahasia diantara mereka berdua dan Revan tidak smestinya ikut campur, apalagi mendengar percakapan tersebut.

Fikry : “ ............. “
Fikry hanya diam saja, tidak berkata apa-apa. Hanya menatap tajam ke arah Revan. Api cemburu sudah mulai membakar dirinya.

Om Nas bertanya2 dalam hati,
(Apa Revan mendengar percakapanku tadi??).
“Tidak apa2 kok, kami ....
Cuma berbincang aja”
Om Nas mencoba menjelaskan kepada Revan bahwa yg tadi itu hanya perbincangan biasa.

Fikry hanya bisa mengangguk, kesal dan berkata:
“Oh .....
Jadi,,, karena dia “ sambil melihat sinis ke arah Revan

Om Nas hanya menoleh ke arah Revan dan tidak mampu berkata2, tidak mengiyakan tidak pula menyanggah pernyataan Fikry.

Revan yang ditatap dengan tatapan yg penuh amarah oleh Fikry hanya terdiam melihat ke arah mereka berdua, tidak mengerti apa yg sebenarnya mereka maksudkan.

Sebenarnya Om Nas ingin memberi penjelasan bahwa itu semua tidak seperti yg Fikry pikirkan, tetapi
Fikry tidak tahan lagi. ia pun langsung pergi dari hadapan Om Nas, dengan langkah yang dipercepat dia pergi tanpa berpamitan.

Fikry tidak mau emosinya meluap dan tidak terkendali. Dia lebih memilih untuk pergi dari sana, daripada harus meluapkan emosi kecemburuannya kepada Revan saat itu.

Revan merasa tidak enak dengan Fikry. Ia menyadari bahwa ia seharusnya tidak berada di sana dan kehadirannya sangat tidak diharapkan khususnya oleh Fikry.

(Mungkinkan ini semua karena kehadiranku??)
Kata Revan dalam hati. Revan terdiam sejenak dan memikirkan itu semua. Sepertinya ia telah berdosa karena mungkin saja akan membuat hubungan dua orang kekasih yg saling mencintai itu berakhir.

Untuk mengalihkan topik, Om Nas memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan Revan.
“Nak Revan,,
Kamu sudah menjenguk Mina ?”

“i,iya Om.
Kebetulan ada meeting nanti siang, jadi aku harus pamit”
Jawab Revan

“Nak Revan,,
Om mau mengucapkan banyak terima kasih...
Di saat2 sulit seperti ini ...”

Revan lalu memegang pundak Om Nas untuk menguatkannya dan agar beliau tidak sungkan dengan bantuan yg telah diberikannya.
“Sudahlah Om,,,
_never mind_ “

Om Nas tersenyum. ia memang bersyukur, karena di masa2 sulit yang tengah dialaminya Revan memberikan pertolongan yg tidak sedikit tanpa pamrih. tapi beliau masih tetap merasa sungkan dengan Revan.
“Tapi Nak Revan, semua biaya itu tidak murah .... “

Revan pun menjawab dengan santun.
“Om Nas,,,
....
Sama seperti hal nya Om dan tante,,,
Bagiku juga yang terpenting adalah kesehatan Mina.”


———————————


Di Cafe, tidak biasanya para karyawan sudah berkumpul dengan sigap. Bella, Ainun, dan Rizkan sudah ada di Cafe itu sejak pukul 06.00. Terkecuali Fandy yg sampai sekarang pun belum datang.

Vya dan Lutfi datang belakangan pada pukul 07.30. Vya masuk Cafe lalu menyapa teman2nya dan langsung ke meja kasir.
Lutfi datang hampir bersamaan dengan Vya. Kemudian ia merasa aneh dengan teman2nya itu (Rizkan n the gang), tampang mereka terlihat serius sekali.

“Morning Bro n Sis”
Sapa Lutfi, dengan ramah dan senyuman pagi yg sumringah.

Rizkan menjawab seadanya dengan tatapan lurus kedepan melihat jauh keluar Cafe (menembus pintu masuk yg terbuat dari kaca)
“Iyaa, pagiii”

Bella dan Ainun juga sama, menjawab seadanya.
“Pagiii”
mereka sudah mulai jenuh menunggu Fikry yg tak kunjung datang, padahal biasanya pagi2 buta sudah datang dan ngomel2 kalau Cafe belum siap.

sementara itu Aidil baru datang 15 menit kemudian. (Aidil, Vya, dan Lutfi memang tidak ikut2an Rizkan n the gang, jadi masuk seperti biasa).

Semua pekerjaan persiapan buka cafe serta bersih2 telah selesai dikerjakan sejak 06.30 tadi pagi. Setelah pekerjaan persiapan selesai pagi itu Rizkan, Bella, dan Ainun duduk dengan sabar, menunggu datangnya sang manajer.

Seperti yg dijanjikan semalam, rencananya mereka akan menyergap si Manajer, Fikry, ketika masuk Cafe dan memberitahu nya tentang isi surat tersebut.

Jam sudah menunjukan pukul 08.30, namun sosok yg ditunggu tidak kunjung datang. Rizkan terlihat mondar-mandir, kesana kemari. Sesekali ia melihat jam dinding di ruang makan pelanggan, ia sudah tidak sabar menanti kedatangan Fikry.

Tak lama kemudian, Pak Bastyan pun datang.




-to be continue-

No comments:

Post a Comment