- Episode 8 -
— Flashback —
Setelah puas bertanya
kepada pihak admin Rumah Sakit, Ibu Mina beranjak kembali ke kamar Mina.
Sepanjang perjalanan,
menyusuri koridor rumah sakit itu, si Ibu masih saja memikirkan dan
bertanya-tanya,,siapa gerangan yang membayar lunas semua biaya pengobatan
Mina??
Tapi di sisi lain, ibu
Mina sangat bersyukur. Padahal niatnya ke bagian admin tadi selain untuk
menanyakan biaya pengobatan yang harus dibayar juga untuk memohon keringanan
agar tagihan kali ini (seperti juga yg sebelumnya) dapat dilunasi di lain
waktu.
“Pagi Tante...”
Ternyata tanpa
disadari, sosok Revan sudah berdiri di depan Ibu Mina dan menyapanya.
Rupanya di tengah
perjalanan, ibu Mina bertemu dengan Revan yang ketika itu hendak menuju pintu
keluar Rumah Sakit.
Ibu Mina : “Nak Revan?
Abis darimana?”
Revan : “ini tadi aku
baru aja jenguk Mina, sekarang mau balik ke kantor”
Ibu Mina : “oohh,,,kok
buru2?”
Revan : “iya tante,
kebetulan ada meeting...aku duluan ya tante.
Permisi,
assalmu’alaikum”
Ibu Mina : “iya iya,,
Wa’alaikumussalam....”
Jawabnya sambil
memandang Revan seiring ia berlalu.
Revan terlihat
tergesa-gesa, sesekali ia melihat jam tangan dan mempercepat langkahnya. Ketika
akan sampai di lobby Rumah Sakit secara tidak sengaja ia melihat sosok Fikry
dan om Nas yang masih berbincang di salah satu lorong Rumah Sakit yang sepi
dekat lobby itu.
Revan merasa tidak
enak jika harus pulang begitu saja tanpa pamitan, jadi dia memutuskan
menghampiri mereka untuk berpamitan dengan Om Nas.
Namun beberapa saat
kemudian, langkahnya terhenti. ia menyadari sedang terjadi perdebatan sengit
antara Fikry dan Om Nas.
“Ga ....
Ga mungkin om ! ... “
jawab Fikry, tegas.
Raut wajah nya
terlihat kecewa sekaligus marah.
Terlihat Om Nas pun
tidak terlihat senang. Nada suaranya meninggi dan sedikit kesal
“Tolonglah Fik ! ... “
“Ga ...
Aku ga bisa ...
... “
Tegas Fikry sambil
menggeleng gelengkan kepalanya. Tangannya memegang kepalanya yang tiba-tiba
merasa pusing setelah mendengar permintaan Om Nas.
“Aku cinta sama Mina
Om !,,,
....
Ga !! ....
Aku ga bisa melakukan
apa yg Om minta ! “
Om Nas terlihat terus
memberikan penjelasan kepada Fikry agar dia mau mengerti dan memahami alasan
dibalik permintaan Om Nas.
“Ini demi kebaikan
Mina !! “
Tegas Om Nas.
“Apa salahku Om ?!
Apa salahku ?!! ....
Sampai aku harus
meninggalkannya ?!! .... “
Fikry sangat tidak
terima dengan keputusan Om Nas. Sepengetahuannya ia tidak pernah melakukan
kesalahan yg membuat orang tua Mina kecewa atau semacamnya. Semua berjalan
baik-baik saja pada awalnya.
Revan yg berada tidak
jauh dari sana otomatis, secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
Meskipun dia tau itu bukan urusannya, tapi mendengar berita itu tentu cukup
membuatnya terkejut.
(Apakah selama ini
hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Mina??)
(Mungkinkah mereka
akan berakhir??)
(Apakah ini peluang
bagiku??)
Pertanyaan2 itu terus
menggema didalam pikiran Revan.
Selang beberapa menit
kemudian, Om Nas menyadari kehadiran Revan yg berdiri tidak jauh dari mereka.
Om Nas pun menghentikan pembicaraannya dengan Fikry dan berpura-pura tersenyum
ke arah nya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Oh, ma,maaf Om Nas
klo aku mengganggu percakapan kalian.
... “
kata Revan, ia
menyadari seketika Om Nas melihatnya percakapan mereka langsung terhenti. Hal
itu semestinya adalah rahasia diantara mereka berdua dan Revan tidak smestinya
ikut campur, apalagi mendengar percakapan tersebut.
Fikry : “
............. “
Fikry hanya diam saja,
tidak berkata apa-apa. Hanya menatap tajam ke arah Revan. Api cemburu sudah
mulai membakar dirinya.
Om Nas bertanya2 dalam
hati,
(Apa Revan mendengar
percakapanku tadi??).
“Tidak apa2 kok, kami
....
Cuma berbincang aja”
Om Nas mencoba
menjelaskan kepada Revan bahwa yg tadi itu hanya perbincangan biasa.
Fikry hanya bisa
mengangguk, kesal dan berkata:
“Oh .....
Jadi,,, karena dia “
sambil melihat sinis ke arah Revan
Om Nas hanya menoleh
ke arah Revan dan tidak mampu berkata2, tidak mengiyakan tidak pula menyanggah
pernyataan Fikry.
Revan yang ditatap
dengan tatapan yg penuh amarah oleh Fikry hanya terdiam melihat ke arah mereka
berdua, tidak mengerti apa yg sebenarnya mereka maksudkan.
Sebenarnya Om Nas
ingin memberi penjelasan bahwa itu semua tidak seperti yg Fikry pikirkan, tetapi
Fikry tidak tahan
lagi. ia pun langsung pergi dari hadapan Om Nas, dengan langkah yang dipercepat
dia pergi tanpa berpamitan.
Fikry tidak mau
emosinya meluap dan tidak terkendali. Dia lebih memilih untuk pergi dari sana,
daripada harus meluapkan emosi kecemburuannya kepada Revan saat itu.
Revan merasa tidak
enak dengan Fikry. Ia menyadari bahwa ia seharusnya tidak berada di sana dan
kehadirannya sangat tidak diharapkan khususnya oleh Fikry.
(Mungkinkan ini semua
karena kehadiranku??)
Kata Revan dalam hati.
Revan terdiam sejenak dan memikirkan itu semua. Sepertinya ia telah berdosa
karena mungkin saja akan membuat hubungan dua orang kekasih yg saling mencintai
itu berakhir.
Untuk mengalihkan
topik, Om Nas memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan Revan.
“Nak Revan,,
Kamu sudah menjenguk
Mina ?”
“i,iya Om.
Kebetulan ada meeting
nanti siang, jadi aku harus pamit”
Jawab Revan
“Nak Revan,,
Om mau mengucapkan
banyak terima kasih...
Di saat2 sulit seperti
ini ...”
Revan lalu memegang
pundak Om Nas untuk menguatkannya dan agar beliau tidak sungkan dengan bantuan
yg telah diberikannya.
“Sudahlah Om,,,
_never mind_ “
Om Nas tersenyum. ia
memang bersyukur, karena di masa2 sulit yang tengah dialaminya Revan memberikan
pertolongan yg tidak sedikit tanpa pamrih. tapi beliau masih tetap merasa
sungkan dengan Revan.
“Tapi Nak Revan, semua
biaya itu tidak murah .... “
Revan pun menjawab
dengan santun.
“Om Nas,,,
....
Sama seperti hal nya
Om dan tante,,,
Bagiku juga yang
terpenting adalah kesehatan Mina.”
———————————
Di Cafe, tidak
biasanya para karyawan sudah berkumpul dengan sigap. Bella, Ainun, dan Rizkan
sudah ada di Cafe itu sejak pukul 06.00. Terkecuali Fandy yg sampai sekarang
pun belum datang.
Vya dan Lutfi datang
belakangan pada pukul 07.30. Vya masuk Cafe lalu menyapa teman2nya dan langsung
ke meja kasir.
Lutfi datang hampir
bersamaan dengan Vya. Kemudian ia merasa aneh dengan teman2nya itu (Rizkan n
the gang), tampang mereka terlihat serius sekali.
“Morning Bro n Sis”
Sapa Lutfi, dengan
ramah dan senyuman pagi yg sumringah.
Rizkan menjawab
seadanya dengan tatapan lurus kedepan melihat jauh keluar Cafe (menembus pintu
masuk yg terbuat dari kaca)
“Iyaa, pagiii”
Bella dan Ainun juga
sama, menjawab seadanya.
“Pagiii”
mereka sudah mulai
jenuh menunggu Fikry yg tak kunjung datang, padahal biasanya pagi2 buta sudah
datang dan ngomel2 kalau Cafe belum siap.
sementara itu Aidil
baru datang 15 menit kemudian. (Aidil, Vya, dan Lutfi memang tidak ikut2an
Rizkan n the gang, jadi masuk seperti biasa).
Semua pekerjaan
persiapan buka cafe serta bersih2 telah selesai dikerjakan sejak 06.30 tadi
pagi. Setelah pekerjaan persiapan selesai pagi itu Rizkan, Bella, dan Ainun
duduk dengan sabar, menunggu datangnya sang manajer.
Seperti yg dijanjikan
semalam, rencananya mereka akan menyergap si Manajer, Fikry, ketika masuk Cafe
dan memberitahu nya tentang isi surat tersebut.
Jam sudah menunjukan
pukul 08.30, namun sosok yg ditunggu tidak kunjung datang. Rizkan terlihat
mondar-mandir, kesana kemari. Sesekali ia melihat jam dinding di ruang makan
pelanggan, ia sudah tidak sabar menanti kedatangan Fikry.
Tak lama kemudian, Pak
Bastyan pun datang.
-to be continue-
No comments:
Post a Comment