Tuesday, September 18, 2018

Cafe Hits - Don't be sad -


- Episode 8 -




— Flashback —



Setelah puas bertanya kepada pihak admin Rumah Sakit, Ibu Mina beranjak kembali ke kamar Mina.

Sepanjang perjalanan, menyusuri koridor rumah sakit itu, si Ibu masih saja memikirkan dan bertanya-tanya,,siapa gerangan yang membayar lunas semua biaya pengobatan Mina??

Tapi di sisi lain, ibu Mina sangat bersyukur. Padahal niatnya ke bagian admin tadi selain untuk menanyakan biaya pengobatan yang harus dibayar juga untuk memohon keringanan agar tagihan kali ini (seperti juga yg sebelumnya) dapat dilunasi di lain waktu.

“Pagi Tante...”
Ternyata tanpa disadari, sosok Revan sudah berdiri di depan Ibu Mina dan menyapanya.
Rupanya di tengah perjalanan, ibu Mina bertemu dengan Revan yang ketika itu hendak menuju pintu keluar Rumah Sakit.

Ibu Mina : “Nak Revan? Abis darimana?”

Revan : “ini tadi aku baru aja jenguk Mina, sekarang mau balik ke kantor”

Ibu Mina : “oohh,,,kok buru2?”

Revan : “iya tante, kebetulan ada meeting...aku duluan ya tante.
Permisi, assalmu’alaikum”

Ibu Mina : “iya iya,,
Wa’alaikumussalam....”
Jawabnya sambil memandang Revan seiring ia berlalu.

Revan terlihat tergesa-gesa, sesekali ia melihat jam tangan dan mempercepat langkahnya. Ketika akan sampai di lobby Rumah Sakit secara tidak sengaja ia melihat sosok Fikry dan om Nas yang masih berbincang di salah satu lorong Rumah Sakit yang sepi dekat lobby itu.

Revan merasa tidak enak jika harus pulang begitu saja tanpa pamitan, jadi dia memutuskan menghampiri mereka untuk berpamitan dengan Om Nas.

Namun beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti. ia menyadari sedang terjadi perdebatan sengit antara Fikry dan Om Nas.

“Ga ....
Ga mungkin om ! ... “
jawab Fikry, tegas.
Raut wajah nya terlihat kecewa sekaligus marah.

Terlihat Om Nas pun tidak terlihat senang. Nada suaranya meninggi dan sedikit kesal
“Tolonglah Fik ! ... “

“Ga ...
Aku ga bisa ...
... “
Tegas Fikry sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Tangannya memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing setelah mendengar permintaan Om Nas.
“Aku cinta sama Mina Om !,,,
....
Ga !! ....
Aku ga bisa melakukan apa yg Om minta ! “

Om Nas terlihat terus memberikan penjelasan kepada Fikry agar dia mau mengerti dan memahami alasan dibalik permintaan Om Nas.
“Ini demi kebaikan Mina !! “
Tegas Om Nas.

“Apa salahku Om ?!
Apa salahku ?!! ....
Sampai aku harus meninggalkannya ?!! .... “

Fikry sangat tidak terima dengan keputusan Om Nas. Sepengetahuannya ia tidak pernah melakukan kesalahan yg membuat orang tua Mina kecewa atau semacamnya. Semua berjalan baik-baik saja pada awalnya.

Revan yg berada tidak jauh dari sana otomatis, secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Meskipun dia tau itu bukan urusannya, tapi mendengar berita itu tentu cukup membuatnya terkejut.

(Apakah selama ini hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Mina??)
(Mungkinkah mereka akan berakhir??)
(Apakah ini peluang bagiku??)
Pertanyaan2 itu terus menggema didalam pikiran Revan.

Selang beberapa menit kemudian, Om Nas menyadari kehadiran Revan yg berdiri tidak jauh dari mereka. Om Nas pun menghentikan pembicaraannya dengan Fikry dan berpura-pura tersenyum ke arah nya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Oh, ma,maaf Om Nas klo aku mengganggu percakapan kalian.
... “
kata Revan, ia menyadari seketika Om Nas melihatnya percakapan mereka langsung terhenti. Hal itu semestinya adalah rahasia diantara mereka berdua dan Revan tidak smestinya ikut campur, apalagi mendengar percakapan tersebut.

Fikry : “ ............. “
Fikry hanya diam saja, tidak berkata apa-apa. Hanya menatap tajam ke arah Revan. Api cemburu sudah mulai membakar dirinya.

Om Nas bertanya2 dalam hati,
(Apa Revan mendengar percakapanku tadi??).
“Tidak apa2 kok, kami ....
Cuma berbincang aja”
Om Nas mencoba menjelaskan kepada Revan bahwa yg tadi itu hanya perbincangan biasa.

Fikry hanya bisa mengangguk, kesal dan berkata:
“Oh .....
Jadi,,, karena dia “ sambil melihat sinis ke arah Revan

Om Nas hanya menoleh ke arah Revan dan tidak mampu berkata2, tidak mengiyakan tidak pula menyanggah pernyataan Fikry.

Revan yang ditatap dengan tatapan yg penuh amarah oleh Fikry hanya terdiam melihat ke arah mereka berdua, tidak mengerti apa yg sebenarnya mereka maksudkan.

Sebenarnya Om Nas ingin memberi penjelasan bahwa itu semua tidak seperti yg Fikry pikirkan, tetapi
Fikry tidak tahan lagi. ia pun langsung pergi dari hadapan Om Nas, dengan langkah yang dipercepat dia pergi tanpa berpamitan.

Fikry tidak mau emosinya meluap dan tidak terkendali. Dia lebih memilih untuk pergi dari sana, daripada harus meluapkan emosi kecemburuannya kepada Revan saat itu.

Revan merasa tidak enak dengan Fikry. Ia menyadari bahwa ia seharusnya tidak berada di sana dan kehadirannya sangat tidak diharapkan khususnya oleh Fikry.

(Mungkinkan ini semua karena kehadiranku??)
Kata Revan dalam hati. Revan terdiam sejenak dan memikirkan itu semua. Sepertinya ia telah berdosa karena mungkin saja akan membuat hubungan dua orang kekasih yg saling mencintai itu berakhir.

Untuk mengalihkan topik, Om Nas memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan Revan.
“Nak Revan,,
Kamu sudah menjenguk Mina ?”

“i,iya Om.
Kebetulan ada meeting nanti siang, jadi aku harus pamit”
Jawab Revan

“Nak Revan,,
Om mau mengucapkan banyak terima kasih...
Di saat2 sulit seperti ini ...”

Revan lalu memegang pundak Om Nas untuk menguatkannya dan agar beliau tidak sungkan dengan bantuan yg telah diberikannya.
“Sudahlah Om,,,
_never mind_ “

Om Nas tersenyum. ia memang bersyukur, karena di masa2 sulit yang tengah dialaminya Revan memberikan pertolongan yg tidak sedikit tanpa pamrih. tapi beliau masih tetap merasa sungkan dengan Revan.
“Tapi Nak Revan, semua biaya itu tidak murah .... “

Revan pun menjawab dengan santun.
“Om Nas,,,
....
Sama seperti hal nya Om dan tante,,,
Bagiku juga yang terpenting adalah kesehatan Mina.”


———————————


Di Cafe, tidak biasanya para karyawan sudah berkumpul dengan sigap. Bella, Ainun, dan Rizkan sudah ada di Cafe itu sejak pukul 06.00. Terkecuali Fandy yg sampai sekarang pun belum datang.

Vya dan Lutfi datang belakangan pada pukul 07.30. Vya masuk Cafe lalu menyapa teman2nya dan langsung ke meja kasir.
Lutfi datang hampir bersamaan dengan Vya. Kemudian ia merasa aneh dengan teman2nya itu (Rizkan n the gang), tampang mereka terlihat serius sekali.

“Morning Bro n Sis”
Sapa Lutfi, dengan ramah dan senyuman pagi yg sumringah.

Rizkan menjawab seadanya dengan tatapan lurus kedepan melihat jauh keluar Cafe (menembus pintu masuk yg terbuat dari kaca)
“Iyaa, pagiii”

Bella dan Ainun juga sama, menjawab seadanya.
“Pagiii”
mereka sudah mulai jenuh menunggu Fikry yg tak kunjung datang, padahal biasanya pagi2 buta sudah datang dan ngomel2 kalau Cafe belum siap.

sementara itu Aidil baru datang 15 menit kemudian. (Aidil, Vya, dan Lutfi memang tidak ikut2an Rizkan n the gang, jadi masuk seperti biasa).

Semua pekerjaan persiapan buka cafe serta bersih2 telah selesai dikerjakan sejak 06.30 tadi pagi. Setelah pekerjaan persiapan selesai pagi itu Rizkan, Bella, dan Ainun duduk dengan sabar, menunggu datangnya sang manajer.

Seperti yg dijanjikan semalam, rencananya mereka akan menyergap si Manajer, Fikry, ketika masuk Cafe dan memberitahu nya tentang isi surat tersebut.

Jam sudah menunjukan pukul 08.30, namun sosok yg ditunggu tidak kunjung datang. Rizkan terlihat mondar-mandir, kesana kemari. Sesekali ia melihat jam dinding di ruang makan pelanggan, ia sudah tidak sabar menanti kedatangan Fikry.

Tak lama kemudian, Pak Bastyan pun datang.




-to be continue-

Wednesday, September 12, 2018

Cafe Hits - Don't be sad -

- Episode 7 -



— flashback —



Mereka terus berjalan, sampai akhirnya tiba di lantai dasar, di ujung lorong rumah sakit dekat Lobby.
Kemudian, datang seorang laki - laki dengan mengenakan kemeja kantoran lengkap dengan jas hitam elegan nya menghampiri mereka.


Cwo : “Pagi, Om Nas”

Om Nas : “eh, Nak Revan.
Kamu baru datang?”
Jawab Om Nasrudin, menyambut hangat Revan yang datang menghampiri.

Revan : “halo, Fik”

Fikry : “hai...”

Fikry dan Revan berjabat tangan dan saling menyapa. Namun, Fikry terlihat tidak senang.

“kamar Mina dimana ya Om?”
Tanya Revan, antusias

“Lt.5 di Ruang Cempaka,
lorong ini lurus saja, nanti ada lift, terus ada petunjuk arah ruang cempaka”
Jawab Om Nas.

Fikry melihat, ekspresi Ayah Mina ketika Revan datang sangat senang sekali.

Revan pun langsung berlalu dengan membawa tentengan berupa parcel buah - buahan yang dikemas dengan mewah.

(“Revan ya,,,,sering liat dulu pas di kantor...
Untuk apa dia bawa2 buah segala? Ga tau apa, aku cwonya sudah jenguk dan bawa buah?”)
Kata Fikry dalam hati. ia tidak terlihat senang ketika melihat Revan datang. Tatapan matanya yang tajam terus memantau Revan dari kejauhan, sampai tidak terlihat lagi.

Dulu sewaktu Fikry masih bekerja di kantor Ayah Mina, ia pernah beberapa kali bertemu dengan Revan. Awalnya dia berpikir bahwa Revan hanyalah rekan bisnis biasa yang datang ke kantor untuk meeting dengan Om Nas. Tetapi lambat laun, Fikry sering melihat Dia menaruh perhatian terhadap Mina.

Mina, dalam beberapa kesempatan, pun sering bercerita kalau Revan selalu perhatian kepadanya. Tapi, Mina selalu tidak berpikir yang aneh2 terhadap perilaku Revan.

Mina menganggap Revan hanya teman biasa, sekaligus rekan bisnis yang bersahabat. Mina berpikir bahwa harusnya Revan sudah tau bahwa ia sudah memiliki sandaran hati, yaitu Fikry. Jadi, Revan tidak mungkin ada maksud2 tertentu.

Berbeda halnya dengan Fikry. ia kerap cemburu dengan Mina, ketika Revan datang atau bertamu ke rumah Mina. Revan juga kerap datang ke kantor Ayah Mina, Fikry tidak percaya kalau itu semua hanya urusan bisnis.

Menurut Fikry, Revan pasti datang untuk menemui Mina, yang memang menjabat sebagai salah satu manajer di kantor ayahnya, dengan berbagai macam alasan alias modus.

Belum lagi belakangan ini, sambutan Om Nas setiap kali Revan datang begitu hangat, sangat menerima.

Pernah suatu kali, Mina dan Fikry sudah memiliki janji untuk makan malam bersama di luar. Tetapi, Revan datang ke rumah Mina dan mengajak Om Nas dan Mina makan malam bersama. Revan beralasan bahwa ada proyek yang bonafit dan perlu segera dibahas. akhirnya, janjian dinner Fikry dengan Mina terpaksa batal.

Tak lama kemudian, Revan pun tiba di ruang Cempaka tempat Mina dirawat inap. Setelah mengetuk pintu dan memberi salam, ia masuk ke dalam ruangan dan melihat hanya ada Mina sendirian di ruangan.

“Assalamu’alaikum,,
Hai Mina”
Sapa Revan tatkala memasuki ruangan dengan senyuman sumringah khasnya.

“Wa’alaikumussalam,,
...
Revan?”
Jawab Mina, ia tak menyangka Revan akan datang menjenguk untuk yang kesekian kalinya.

Mina tak berharap Revan akan datang kali ini. ia menjadi merasa tidak enak dengan Revan, karena selama ini tak pernah peduli dengan Revan.
Tetapi sebaliknya, Revan selalu peduli dengannya.
Walaupun selama ini memang Mina tidak ingin memberikan celah, atau harapan untuk Revan mendekatinya.

Revan masuk, meletakan parcel buah besar yang dibawanya itu di atas meja makan, lalu ia duduk di samping Mina, tempat yang sama dengan Fikry duduk tadi.

Revan menanyakan tentang kondisi Mina dengan antusias.
“Gimana kondisimu sekarang Mina?”

Mina : “sudah lebih baik kok”
Jawabnya, datar tanpa ekspresi.

Revan : “kamu pasti kurang istirahat lagi kn? Bandel sih...”

Mina : “iyaaa, mau gimana lagi? Hidupku kn ga cuma di kamar, istirahat melulu...”
Jawabnya tanpa menatap Revan, ngambek.
(Kenapa tanya2 sih) kata Mina dalam hati. ia masih merasa agak tidak suka ditanya2 oleh Revan.

Revan : “(menghela napas panjang)
...
Kamu tuh ya !...
Paling suka bikin orang lain khawatir ... “
Revan menatap tajam ke arah Mina, dia mulai berbicara dengan nada suara yang serius.

Mina menoleh dan menatap Revan. ia melihat raut wajah Revan yang sangat khawatir. Mina belum pernah melihat Revan seperti itu sebelumnya.

Mina : “....”

“Kamu tidak lihat gimana cemasnya Ayahmu, ibumu, dan orang-orang terdekatmu ?? “
Lanjut Revan, nada suaranya agak sedikit tinggi. Itu semua ia lakukan agar Mina tidak lagi melanggar anjuran dokter.

“Kami semua khawatir Mina...
....
Jadi tolong....
Minum obat yang teratur dan banyak istirahat,,,
Ikuti apa kata dokter
... “

Mina : “ ........ “
Mina tak mampu berkata apa-apa, ia hanya melihat Revan dan memikirkan tentang semua yang dikatakan Revan

Revan terlihat sangat menggebu-gebu ketika menasihati Mina yang memang suka melanggar aturan dokter.
Mina melakukan hal itu karena sudah bosan dengan semua pengobatan yang rutin ia jalani, namun tak kunjung memberikannya kesembuhan.

Setelah mendengar itu semua, hati Mina mulai merasa luluh. ia tak pernah berpikir bahwa Revan ternyata sepeduli itu dengannya.

Mina : “ ......
Iyaa,,,Maaf”
Mina pun tersenyum manis, dan meminta maaf kepada Revan.
“Aku janji deh, mulai hari ini akan nurut sama dokter”
Lanjutnya.

Mina menatap dalam mata Revan, tersenyum lalu berkata:
“Biar orang tua aku, ....
Dan orang lain di sekitarku,,
Yang menyayangiku,,, tidak lagi khawatir,,,
Termasuk kamu ....”

Revan mulai salah tingkah, dan mengalihkan pandangannya dari Mina.
“......
Oh iya,,,aku tadi bawa buah,
Buat kamu,,,
Dimakan yah “
Jawab Revan tanpa menatap Mina. ia terlihat gugup, dan sesekali membenarkan kaca mata bergagang hitamnya. Padahal posisi kacamata nya baik-baik saja.

Mereka berdua terdiam sejenak, tanpa sepatah katapun terucap. Suasana hening nan awkward.

(Duh, kenapa aku harus bilang kayak gitu ke Revan, jd bingung kn mau ngomong apalagi.)
Kata Mina dalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara dering telpon dari hp Revan yang sejak tadi digenggamnya.
Revan : “ya halo ...
....
Oh! Iya maaf....
Saya lupa”
Revan menjawab telpon tersebut lalu melihat jam tangan mewah nya yang dikenakan di tangan kiri.

“Jam berapa meeting nya?
....
Ok ok, saya langsung kesana
... tunggu ya
...
Ok makasih”
Revan terlupa bahwa ada meeting di salah satu perusahaan nya yang harus ia hadiri.

Revan merasa terselamatkan oleh telepon tadi dari suasana hening tadi. Otomatis, dia harus segera beranjak dari sana agar dapat menghadiri meeting tepat waktu.

Revan bangun dari kursinya, lalu berpamitan dengan Mina.
“Mina, maaf aku harus ke kantor sekarang...
Aku lupa ada meeting nanti siang”

Mina : “iya gpp”

Revan : “ibumu tidak datang?”
Jawab Revan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. ia baru sadar sedari tadi hanya bertemu dengan ayahnya Mina di lobby Rumah Sakit dan belum bertemu dengan ibunya Mina.

“oh, ada kok, tadi lagi keluar sebentar”
Jawab Mina.

Revan : “yasudah, salam buat ibumu ya”

Mina : “iya, nanti aku sampaikan”

Revan pun bergegas keluar ruangan dan sibuk men-check WA di hp nya. Dia benar2 lupa agenda kantor hari ini. Baginya menjenguk Mina jauh lebih penting, sehingga dia melupakan urusan kantornya.

Sementara itu, di bagian ruangan lain Rumah Sakit. Ternyata Ibu Mina sedang menanyakan terkait biaya Perawatan Mina di bagian administrasi.

“Apa ?? ...
sudah lunas semua ?? “
Jawab Ibu Mina, terheran - heran.

Ibu Mina datang ke bagian administrasi untuk mengurus perihal biaya Rumah Sakit. Namun ia terkejut, karena semua biaya sudah terbayar lunas.

Semua lunas termasuk seluruh tunggakan biaya Rumah Sakit. Kebetulan pemilik Rumah Sakit kenal dekat dengan Nasrudin, ayah Mina. Sehingga meskipun tidak mengapa meskipun biaya perawatan Mina belum dibayar dan menunggak.

Rumah Sakit ini memang terkenal bagus dan memiliki peralatan yang lengkap. Tak ayal apabila biaya perawatan di Rumah Sakit ini harganya selangit. Namun itu semua diimbangi dengan profesionalisme tenaga kesehatan dan fasilitas pengobatan yang lengkap.

Mina selalu dibawa ke Rumah Sakit ini untuk perawatan. Tetapi karena terlalu sering, biaya yang harus dikeluarkan pun sangat besar dan tidak jarang Orang tua Mina harus menunggak.

“Coba cek lagi mba,,,
Ga mungkin lunas semua,,,
Soalnya kami memang belum bayar”
Kata Ibu Mina yang masih tidak percaya dengan jawaban admin.

Mba Admin : “sudah Bu, ini sudah kelima kalinya saya cek.
Semuanya sudah lunas Bu,
Sudah ada yang bayar”


-to be continue-

Monday, May 14, 2018

Cafe Hits - Don't Be Sad -

- Episode 6 -




—- flashback —-



Mina : “kamu masih inget sm lagu kesukaanku?” Mina sangat senang karena Fikry ingat dengan lagu itu, ditambah lagi dinyanyikan oleh sang pemilik hati khusus untuknya.

Fikry : “ga mungkin ak lupa sayang,,,
Lagipula, ak juga suka lagu itu.
Sini makan buahnya lg,,,
Ak kupasin apelnya y”
Jawab Fikry, ia mengambil sebuah apel Fuji segar yg brrwarna kuning kemerahan dan mulai mengupasnya. Dia tau kalau Mina tidak suka kulit apel, karena sering tersedak dengan kulit apel itu.

Mina memakan potongan apel satu demi satu.
“Oia,,,kamu kok ga berangkat ke kantor sayang?”
Tanya Mina, heran. Harusnya jam segini Fikry sudah rapi dengan kemeja formal nya.
Tapi hari ini, dia datang menjenguk hanya berpakaian santai, mengenakan kaos dan celana chinos berwarna terang.

“Nnnggg...anu..
Aku...”
Fikry tidak bs menjawab. ia bingung bagaimana harus menjelaskannya. Tidak mungkin ia harus jujur dan bilang bahwa ia sudah tidak bekerja lagi di Perusahaan ayah Mina.

Fikry takut kalau ia berkata jujur kepada Mina, hal itu justru akan membuat kondisi kesehatannya bertambah buruk.

Dokter yg merawat Mina sudah mewanti-wanti kepada orang tua Mina dan juga fikry, bahwa Mina harus terus disupport, harus terus diberi dukungan.
Dokter itu juga bilang bahwa Mina tidak boleh down dan banyak beban pikiran karena hal itu justru akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatannya.

“Apaa....?
Kenapa kamu ga jawab?...
...”
Tanya Mina, heran. ia melihat wajahnya Fikry yang tampak kebingungan, matanya tidak berani menatap langsung Mina.

“Ada yang kamu sembunyikan ya...?”
Lanjut Mina.

“Oh,,,,ga kok,,,
Aku,,cumaa,,,”
Fikry bingung harus mencari - cari alasan lain.

cekreek tiba - tiba terdengar suara pintu terbuka. Percakapan Fikry dan Mina terhenti lalu menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang masuk.

Rupanya yang masuk adalah kedua orang tua Mina. Mereka masuk dengan membawa belanjaan beriisi roti dan makanan lainnya.

“Assalamu’alaikum”
Sapa mereka seraya masuk ke ruang rawat Mina.

Fikry : “ wa’alaikumussalam....
pagi om, tante”

Mina : “ayah, ibu...kok baru datang sekarang?”
Tanya Mina yang sedari tadi menunggu kedatangan kedua orang tuanya. Perutnya sudah lapar, menanti bubur ayam kampung favorit nya yang kemarin dijanjikan akan dibawa oleh mereka.
“Aku udah lapar nih..”

Meskipun bilang lapar, Mina masih saja mengunyah apel yang tadi sudah dikupas kulitnya oleh Fikry.
Fikry cuma senyam senyum saja melihat Mina yang kelaparan. Tandanya ia tidak kehilangan nafsu makan, dan itu bagus agar bisa cepat pulih.

Si Ayah datang dengan memakai kemeja biru setelan lengkap dengan jas nya. ia sudah siap untuk berangkat ke kantor dan memang berencana untuk pergi ke kantor setelah menjenguk putrinya.

Sementara si ibu mengenakan blouse lengan panjang dan jilbab yang tidak panjang berwarna coklat muda, lengkap dengan bros silver yang diberi pernak pernik.

Rencananya, mereka akan sarapan bersama dengan putrinya di sini. Setelah itu, si ayah akan langsung berangkat ke kantor dan si ibu tetap menemani putrinya di ruang rawat tersebut.

Baru saja masuk ruangan, ayah Mina sudah ingin berbalik badan, beranjak kembali pulang.
“lhoo, sudah ada Nak Fikry rupanya, ayo Bu, kita balik lagi saja”
Ajak sang ayah kepada si ibu sambil melirik ke arah putrinya yang sedang disuapi okeh Fikry.

“Iya nih,,,kita pulang lagi yuk”
Jawab manja si Ibu.

“Ayaah, ibuuu...jangan gitu ah, becanda melulu”
Sahut Mina, ia tersipu malu digoda oleh kedua orang tuanya.

Fikry menghentikan menyuapi Mina, dan menaruh kembali buah apel dan jeruk yang belum habis itu di atas meja.

Orang tua Mina pun tertawa dan kembali masuk ke dalam ruangan. Mereka memang biasa seperti itu, sering menggoda putri kesayangan mereka satu - satunya khususnya apabila tercyduk sedang bermesraan dengan Fikry.

Mereka pun kembali masuk ke ruangan, dan menaruh barang bawaan mereka di atas meja makan besar di dekat sofa berwarna coklat panjang yang memang disediakan untuk penjenguk.

Si Ibu memasukan beberapa barang bawaannya, seperti susu dan jus sari buah, ke dalam kulkas 2 pintu yang terletak di samping sofa itu. Tidak lupa, ia mengambil beberapa mangkuk beserta gelas dari tempat piring mini di sebelah kulkas dekat pojok ruangan.
Di situ juga terdapat termos listrik kecil dan beberapa sachet teh, kopi, lengkap dengan gula dan krimer nya.

Sementara si ibu menyiapkan sarapan bubur ayam dan teh jasmine hangat kesukaan suami, si ayah datang menghampiri Mina.
“Pagi putriku cantik,,,
Gimana hari ini? Sudah lebih baik?”
Tanya si ayah, seraya mengecup kening putrinya dan mengusap - usap kepala nya.

Mina : “Jauh lebih baik dari kemarin, ayah”

Ayah Mina : “alhamdulillah”
ia mengambil kursi di dekat meja makan besar itu dan menaruhnya di samping tempat tudur Mina, bersebelahan dengan Fikry, lalu duduk.

Mina : “ayah liat tuh, manajermu... sudah jam segini belum juga berangkat”
Melirik ke arah Fikry.

Ayah Mina hanya tersenyum, lalu menepuk - nepuk pundak Fikry.
“Khusus untuk hari ini tidak apa -apa terlambat.”
Jawabnya

Fikry merasa lega, karena ia terselamatkan dan tidak perlu mencari - cari alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.

“Yaudah, ak balik dulu ya sayang,,,
Harus siap2 ke kantor sebelum ditegur sama direkturnya”
Fikry pamitan dengan Mina dan kedua orang tuanya lalu bergegas pergi keluar ruangan.

“Ayah keluar sebentar ya”
Kata Ayah Mina, lalu beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi.

Ibu Mina : “lho, mau kemana? Ini teh nya udah siap”
Menaruh secangkir teh hangat beserta piring wadahnya di atas meja.

Ayah Mina : “mau beli ...
koran, tadi lupa”

Si Ayah pergi ke luar ruangan. Rupanya ia bergegas untuk menyusul Fikry yang sudah pergi terlebih dulu.

Ayah Mina : “Fik,,Fikry !! Tunggu sebentar Nak”
Memanggil Fikry yang berada tidak jauh dari hadapannya.

“Ya ... Om Nas? “
Ayah Mina bernama Nasrudin.
Fikry lalu menoleh. Dilihat dari gerak geriknya sepertinya Ayah Mina ingin membicarakan sesuatu.
“Ada apa om?”

Ayah Mina : “ada yang ingin saya bicarakan...kita sambil jalan saja”
Jawabnya, sambil berjalan santai menuju pintu keluar, menyusuri lorong rumah sakit yang sudah mulai ramai dengan lalu lalang perawat dan pasien.

(Ada yang ingin dibicarakan? Ada apa? raut wajah Ayah Mina seperti sedang kacau) kata Fikry dalam hati, yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Ayah Mina yang tidak biasa.

Mereka pun berjalan perlahan, sambil berbincang.
Ayah Mina : “ini sudah yang kesekian kalinya Mina harus dirawat di Rumah Sakit...
...
Mungkin sudah hampir 20kali”

Fikry pun hanya bisa terheran sekaligus sedih mendengar cerita itu.
(Sebanyak itu?? Padahal ini kali ke-6 aku menjenguknya.
aarrghhh,,,,cwo macam apa aku ini, masa aku tidak tau) kata Fikry dalam hati. ia baru tau kalau Mina rupanya sudah sering sekali keluar masuk rumah sakit sejak lama. Bahkan sebelum mereka memiliki hubungan yang dekat seperti sekarang.

Ayah Mina, Nasrudin, melanjutkan ceritanya. Suaranya sudah mulai parau, menahan rasa sedih yang tiba tiba datang.

Ayah Mina : “sudah lama Nak,,,
,,,
Penyakit yang diderita Mina itu sudah lama”

ia pun menghela nafas panjang, lalu melanjutkan ceritanya.
“....
Hanya saja,,
Dulu intensitasnya tidak seperti sekarang ini,,,,
,,,
Sekarang terlalu sering”

Beliau merunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesaat setelah itu, Fikry mendengar beliau beristighfar dengan suara yang semakin lirih astagfirullah

Mendengar hal itu, Fikry semakin sedih dan khawatir dengan kondisi Mina.
(Ada apa ini? Mengapa aku baru tau? Mengapa seolah ini dirahasiakan dariku?) kata Fikry, dalam hati.
Pertanyaan2 itu terus berkecamuk dalam hatinya.

Mereka terus berjalan, sampai akhirnya tiba di lantai dasar, di ujung lorong rumah sakit dekat Lobby.
Kemudian, datang seorang laki - laki dengan mengenakan kemeja kantoran lengkap dengan jas hitam elegan nya menghampiri mereka.

Cwo : “Pagi, Om Nas”



-to be continue-

Sunday, May 13, 2018

Cafe Hits

Don't Be Sad


- Episode 5 -




Biiippp !!.... Biiiiiippp!!!
Biiiiipp !!! ‘
Suara alarm berbunyi dengan keras dari hp Fikry. Ia pun terbangun dari sofa nya, meraih hp yg ada di atas maju, lalu mematikan alarm tersebut.

Fikry memang selalu mensetting alarm setiap harinya pukul 04.00 agar dapat bangun pagi, persiapan, work out, sarapan dan tepat waktu tiba di kantor.
Seorang manajer harus memberikan contoh yg baik bukan?

Tapi pagi ini, rupanya jam sudah menunjukan pukul 06.50 dan alarm sudah berbunyi berkali2 sejak pukul 04.00 tadi. Namun ia tetap saja tidak bangun2.

Tidak biasa Fikry bangun sesiang ini. ia memegang kepalanya
“(argh, masih terasa berat..mungkin karena kurang tidur semalam)” katanya dalam hati.

Fikry melihat ke kanan dan ke kiri. Ia tidak tidur di kamar nya, rupanya semalam ia tertidur di sofa. Kalutnya pikiran dan kenangan yg sebenarnya ingin ia lupakan telah membuatnya terjaga semalaman.

“(Sebaiknya ak tdk masuk hr ini....)”
Kata Fikry dalam hati. Dia lalu mengambil hp dan mengirim WA ke Pak Bastian.

      selamat pagi Pak,
      Sy mohon izin untuk tidak masuk hr ini. Sy ingin istirahat hr ini.
      Terima kasih

Secara tidak sengaja, dia melihat ada notifikasi muncul dari salah satu app medsos nya. Setelah dilihat, ternyata itu notifikasi terkait update status akun Mina.

“(Ohh, nanti malam ya...)”
Katanya dalam hati.

fikry berjalan ke arah beranda, melihat pemandangan pagi ini yg cerah dan awan yg sudah mulai berkumpul dari sebelah utara. Seprtinya akan turun hujan sore nanti, jika dilihat dari arah angin yg membawa awan itu

Apartemen Fikry yg terletak di lantai 10 membuatnya dapat melihat pemandangan yg luas. Tambah lagi, apartemennya menghadap timur, otomatis sinar mentari pagi selalu menghampiri.

“(Pagi yg indah...
...
Semoga ini adalah awal dari segalanya
Awal cerita yg baru...)”
Katanya dalam hati, sambil memandangi indahnya mentari pagi yg sedari tadi menerpa wajahnya dengan sinarnya yg lembut dan hangat.
Sesekali ia menghirup udara pagi yg segar, serasa beban hati dan pikirannya berkurang perlahan.

Melihat indahnya pagi itu, tak sengaja sebuah memori terlintas di pikirannya.

...

—- flashback —-


waktu tidak pernah berjalan mundur,
hari tidak pernah terulang,
Tetapi
Pagi selalu menawarkan cerita yang baru

Di pagi yg cerah itu, Fikry berjalan menelusuri lorong demi lorong yg putih ditemani aroma antiseptik khas Rumah Sakit. Tak lupa, Fikry membawa tentengan sebuah kantong plastik putih berisi buah2 segar, buah tangan khas yg selalu dibawa oleh si penjenguk.

“Suster, ruang cempaka di sebelah mana ya?”
ia menanyakan ruangan vip tempat Mina dirawat inap kepada salah seorang suster berhijab yg ditemuinya di lorong rumah sakit itu.

“Ohh, di sebelah sana mas”
Kata suster sambil mengarahkan tangannya.
“Mas nya lurus saja, mentok belok kanan”

“Ok, makasih mb Sus”
Katanya, lalu bergegas ke arah yg ditunjuk suster tadi.

Di dalam kamar Cempaka, Mina sedang duduk bersandarkan bantal putih di atas tempat tidur dengan seprai putih. Sebuah vas berisi bunga mawar putih yg masih segar terletak di atas meja tepat di samping tempat tidurnya. Di vas itu terdapat kartu putih bertuliskan:

         cepat sembuh ya :))
               -Fikry-

Wajah nya terlihat sedikit pucat dan lemas. ia menggenggam sebuah Smartphone dengan pesan WA yg masih terpampanh di layarnya, bertuliskan :
“Ak otw ya, sayang”
Pesan WA dari fikry pagi itu.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.

Mina : “yaa,,masuk..”
Fikry : “pagiiii matahariku”
Sambil senyum2 layaknha pasangan kekasih yg lagi kasmaran.

Fikry lalu duduk di kursi samping tempat tidur dan menaruh barang bawaanya di atas meja.

“Gimana keadaanmu? Dah baikan?”
Tanya Fikry seraya membelai lembut rambut Mina

“Iyaa, besok atau lusa mungkin sudah boleh pulang.
Jawabnya

“Ini aku bawain buah2an, biar kamu cepat pulih”
Kata Fikry. Buah2an yg ia beli seperti jeruk sunkis, apel, dan anggur.

“Makasih yaa,,,kamu ga usah repot2 bawa buah, liat km datang aja ak udah seneng kok”
Jawabnya sambil tersenyum manis ke arah Fikry.

Fikry : “Biarin, kn kata dokter km hrs banyak makan buah untuk proses pemulihan”

Mina : “tapi...ak ga suka jeruk,,,asem” >.<
Katanya sambil cemberut manja.

Fikry : “lhooo,...ga boleh pilih2 buah. Sini ak suapin, pokoknya km harus makan buah”
Fikry mengambil pisau kecil di samping piring itu, dan memotong jeruk sunkis yg dibawanya.

Fikry : “sini, buka mulutnya....”
Mina : “aaaaa....mmmm
....
Asem ! “
Fikry : “ (tertawa),,,,iyaa namanya juga jeruk”
Jawab fikry sambil menyuapi jeruk dengan perlahan.

Sesekali pandangan Mina tertuju pada pemandangan dari luar RS. Ruang rawat nya yg terletak di lantai 5 itu membuat nya dapat melihat pemandangan sekitar, khususnya di pagi hari, ketika sinar mentari pagi masuk dan menyinari dengan hangat.

Mina : “pagi yg indah...
.... apa ak harus terus seperti ini,,
Ak ingin kembali pulih seperti dulu
....
Bebas melangkahkan kakiku, kemanapun bersamamu..”
Katanya, sambil terus memandangi suasana pagi dari balik jendela kamar rumah sakit

Fikry : “waktu tidak pernah berjalan mundur...
hari tidak pernah terulang...
Tetapi
Pagi,,, selalu menawarkan cerita yang baru.
...
Selalu ada Harapan, Mina
...
Dalam segala hal”
Kata Fikry, sambil menatap mata Mina dengan tatapan yg dalam dan penuh harap. Dia selalu mensupport Mina, dalam kasih dan sayang.

“Terima kasih, Fiik.
Untuk segalanya,,,kau selalu ada untukku”
Jawab Mina yg menatap Fikry dengan penuh harap dan cinta, matanya mulai berbinar2, berlinangan air mata.

Fikry lalu menyanyikan penggalan lirik lagu kesukaan Mina.
“Kekuatan hati,
yang berpegang janji,
Genggamlah tanganku, cinta”

Fikry lalu menggengam erat tangan Mina dengan kedua tangannya, dan meneruskan lagu itu.
“Ku tak akan pergi,
Meninggalkanmu sendiri,
Temani hatimu, cinta”

ia lalu mencium tangan Mina dengan lembut, sambil tersenyum dan berkata
“Dont be sad, yah”



-to be continue-