Sunday, October 30, 2022

- Cafe Hits - Don’t be Sad



 - Episode 10 -

 

 

 

‘TING!!’ bunyi suara bel menggema di ruangan utama cafe, penanda makanan hangat kreasi cheff sudah ready dan siap dihidangkan kepada pelanggan. Lutfi yang keheranan melayangkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, mencari-cari kemana kiranya rekan-rekan tercintanya yang tidak ada dimanapun. Kosong. Tersisa Vya, si kasir yang tetap setia dengan posisinya dan Ainun yang duduk diam di pojok ruangan.


‘TING!!…TING!!’ suara bel kembali menjadi perhatian 2 orang pelanggan, mereka manatap mantap ke arah suara itu berasal, yakin bahwa itulah pesanan yang mereka tunggu sejak tadi.


Lutfi beberapa kali menekan bel itu, berharap Ainun menghampirinya dan mengambil makanan pesanan pelanggan yang sejak tadi menganggur. Tak digubris, Ainun tetap saja duduk diam sambil menatap layar hp-nya. Sebuah pesan Whatsapp dari Fandy bertuliskan ‘maaf 🙏🏻 baru bangun hehe, aku langsung otw kesana ini. Tunggu yaa’ muncul di notifikasi.


Terganggu dengan suara bel yang dibunyikan Lutfi tiada akhir, Vya pun menghampiri dan tanpa berkata apapun langsung mengambil makanan itu lalu disajikan ke pelanggan. Meskipun duo pelanggan ini sudah gelisah dan raut wajah kekecewaan tak mampu ditutupi, namun begitu mencicipi masakan, hilang seketika rasa kecewa itu berganti senyum sumringah, amazed dengan aroma harum serta rasa makanan yang disuguhkan. ‘Nikmat! Worth it!’ kurang lebih seperti itulah kata yang terucap. Lutfi diam-diam mencuri pandang dari balik meja kasir, tersenyum lega memperhatikan dengan seksama ekspresi dan gerak bibir duo sejoli pelanggan itu sebelum akhirnya baranjak kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya. Meski tidak terdengar jelas apa yang mereka bicarakan, namun rasa kepuasan mereka yang terpancar dapat ia rasakan.

 


“Ok,,kira-kira setengah jam lagi saya sampai. Saya tunggu disana ya.” Terdengar suara percakapan Pak Bastian dengan rekannya, kemudian berjalan menghampiri Vya di meja kasir.


“Sepi,, kemana yang lain, Vya?”


“Keluar Pak,,kalau saya tidak salah dengar, mereka ingin menjenguk Pak Fik” jelas Vya yang tidak pernah sekalipun meninggalkan posisinya dan menyimak dengan khidmat segala drama yang terjadi. Vya memang bukan pembicara aktif, namun ia adalah sosok pendengar yang baik.


“Oohh, baiklah. Titip pesan ke Rizkan, belikan singkong goreng merkah ya,,singkong dekat situ enak tuh”

Sebenarnya sudah sedari tadi Pak Bastian mencari dimana sosok OB ini, karena sudah waktu nya untuk menyantap snack siang.


Bukannya mengkritik ulah OB dan karyawannya yang pergi meninggalkan pekerjaan tanpa ijin, malah kepikiran kira-kira jajanan enak apa yang ada di sekitar apartemen Fikry. Mungkin keluhan itulah yang sering terbesit di dalam benak seorang perfeksionis seperti Vya. Ia bukan cepu yang suka mengeluh dan mengadu ke atasan. Namun Vya adalah full introvert, sulit untuk mengungkapkan apapun itu yang ada di dalam benaknya. Keluhan-keluhan itu tetap berkecamuk di dalam hatinya, tanpa terbaca.


Begitulah sosok seorang pemilik cafe ini, wajar jika para karyawan betah dan mengidolakannya, karena baginya masalah sepele seperti ini tidak perlu diperpanjang. Toh ia percaya kalau tidak ada keperluan apa-apa, mereka tidak akan pergi begitu saja.


“Baik Pak,,Bapak mau keluar juga?”


“Iya,,saya ada perlu nih. Ga lama kok, paling sampe sore”


“Langsung pulang juga gapapa kok Pak,, kan bapak pemiliknya, hehe” jawab Vya. ‘Aneh kenapa jadi pemilik yang terkesan seperti minta ijin ke karyawan sih’ benak Vya kembali berkata-berkata. Merenungkan, membahas tanpa harus diungkapkan.


“Iya juga yak 😅” jawab Pak Bastian sambil melihat pesan WA dari rekannya. Ada proyek bisnis yang sedang ia rencanakan dengan rekannya tersebut. Dengan tatapan penuh keyakinan dan sedikit senyuman ia membalas pesan WA itu seraya melangkah ke arah pintu keluar.

 


Sesaat setelah mobil Pak Bastian berlalu, Fandy dengan motor Scoopy brown dan sepasang helm cargloss hitamnya tiba. Masih dengan jaket dan helm yang tidak sempat ia lepaskan, Fandy langsung masuk terburu-buru menghampiri Ainun di pojokan.


“Sudah jam berapaa inii??” Sahut Ainun, cemberut. Make up ala-ala, cosplay salah satu karakter game jejepangan (sesuai request Fandy) sudah mulai luntur dengan tetesan air mata kekesalan. Ia tidak mau menatap langsung Fandy yang duduk berhadapan dengan Ainun, wajah nya menoleh ke arah lain.


“Maap, maap,,,,aku habis nugas semalam, makanya kesiangan 😅

Jelas Fandy, berusaha keras memberikan penjelasan logis layaknya seorang mahasiswa. Walaupun kenyataan yang sebenarnya adalah Fandy dan geng kelasnya nge-gamepush rank all night long sampai mythic.


Ainun masih tetap tidak menerima, apapun alasannya Fandy sangat telambat dan menunggu terlalu lama itu sangat tidak enak. Meskipun dalam beberapa kesempatan yang telah lalu, Fandy lah yang tanpa mengeluh (sambil menonton anime, atau nge-game tentunya) selalu menunggu lama sekali agar Ainun bersiap-siap dengan kostum cosplay-nya.


“Waduh gawat ges,,pemeran utamanya sedang mood swing” Fandy berbisik ke arah handphone di saku kemeja flanel kotak-kotak bernuansa hijau army miliknya. Jaket hitam polosnya tidak di-resleting, dibiarkan terbuka agar tidak menghalangi kamera HP itu. tetap merekam, walau diam-diam. Sebagai vlogger sejati dan channel yang sedang naik daun, Fandy tidak mungkin melewatkan kesempatan emas kali ini, melanjutkan drama live action yang ia rekam sebelumnya.


Rencana awal yang telah disusun adalah siaran live, merekam aksi dan berbagai pose Ainun lengkap dengan kostum salah satu karakter game jejepangan-nya. Ditambah lanjutan drama yang out of no where, tiba-tiba saja terjadi  sebelumnya di cafe, tentunya akan dipandu dan dijelaskan oleh pemeran utama, Ainun the kawaii-handmaiden(julukan yang ditulis dalam deskripsi karakter dalam channelnya).


“Eh, btw,,,aku punya ini lhoo. Acaranya masih 1bulan lagi, kesana bareng yuk”

Rayu Fandy sambil menunjukkan 2buah print out tiket bertuliskan ‘tsuteki da ne, live concert’, sebuah pertujunkuan musik live yang didedikasikan bagi para fans dari one of most favourite game ever.


“Ini kan….” Perhatian Ainun mulai teralihkan, menatap fandy seolah tak percaya dan menerima tiket itu dari Fandy.. “Kok kamu bisa dapet sih?” Ainun mulai tersenyum gembira, kesenduan dan kekesalan sudah tak nampak di wajahnya. Ia kini merasa senang sekali, tiket konser yang ia nanti-nantikan telah ada di tangannya. Bukan tanpa alasan, live concert ini terbilang sangat laris, bahkan beberapa bulan sebelumnya, tiket itu sudah terjual habis. Tersisa hanya yang dijual oleh beberapa orang makelar yang memang dibeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali dengan harga yang relatif sangat mahal. Tak ayal, Ainun yang sejak awal menanti-nantikan adanya konser ini, dan harus mengurunkan niatnya karena tidak mendapat tiket, menjadi riang gembira.


“Aku beli dari teman-teman komunitas di kampus” yup, Fandy adalah anggota dari komunitas waifu di kampus nya. Komunitas yang sangat aktif dalam bebrbagai event jejepangan, khususnya yang berkaitan dengan game Jepang dan anime.

Fandy sudah menyiapkan ini sejak awal, untuk surprise ke Ainun nanti. Tapi, karena kejadian ini Fandy mau tidak mau harus mengeluarkannya sekarang to save the world.


Selesai sudah urusan mood swing the handmaiden ini, Ainun sesekali humming penggalan salah satu lagu yang akan dikonserkan itu saking gembiranya. Melihat Ainun yang kegirangan, Fandy cengar-cengir ikutan bahagia, memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mengikuti alunan humming itu.

 


Setelah menjelaskan segala sesuatu yang terjadi selama Fandy belum tiba di cafe, Ainun dan Fandy segera berangkat menyusul Rizkan dan Bella yang saat ini mungkin sudah sampai di Apartemen Fikry.

Sesaat sebelum men-starter motor, tak lupa Fandy menyapa para viewers vlog yang kian bertambah

“Ok gaes,,kita akan lanjut ke TKP” Ainun tak mau kalah, tetap berpose di belakangnya.


Kini di cafe tinggal Vya, setia dengan mesin kasirnya, dan Lutfi, menyeruput secangkir kopi hitam hangat, menunggu jika ada pesanan berikutnya dari pelanggan.

‘Bisa-bisanya langsung cengar-cengir, padahal tadi bete banget’ benak Vya kembali menggerutu melihat reaksi Ainun tadi. Bukan iri, melainkan dalam kisah hidupnya Vya tak pernah mengalami hal itu. Flat atau datar-datar saja, tidak ada yang menarik. Vya lebih asyik berjibaku dengan kata-kata terpendam hatinya, dibanding jika diungkapkan.

 


Fajar semakin meninggi, sudah masuk waktu siang nampaknya. Gumpalan awan Cumulo Nimbus perlahan bermunculan, gerombolan awan kelabu di ufuk timur pun kian mengiringi, menghampiri jiwa-jiwa yang rindu setiap tetesan pembawa berkah. Memberi kesejukan dan ketenangan bagi sebagian, menemani kepedihan dan kesenduan bagi yang lain.

 


Kecerahan hari ini takkan bertahan lama, begitu pikir Fikry, tubuhnya terlentang di lantai kamar sementara pandangannya tertuju pada langit, mengamati kekosongan.

Ruangan ber- AC itu kini penuh sesak dengan bekas kepulan asap rokok. Gorden balkon dan jendela dibiarkan terbuka, entah karena sesaknya asap atau keinginan untuk menghirup udara segar.

Puntung tembakau itu berserakan di meja, wadah penampungnya sudah tak sanggup lagi menampung puntung-puntung yang sudah menggunung. Beberapa dus rokok kosong dibiarkan berserakan begitu saja di atas meja, sementara sebagian besar lainnya sudah berada di box sampah mini di antara lemari dan meja itu. Entah sudah berapa bungkus rokok yang telah ia habiskan.

 


Keheningan siang itu mulai terusik dengan sayup-sayup suara yang mulai menjadi perhatiannya. Tak lama kemudian, Fikry mulai tersadar dari lamunannya, terbangun, duduk. Menoleh ke belakang, arah suara ketukan, atau lebih terdengar suara gedoran pintu itu, bersamaan dengan seruan namanya. 

Rizkan menggedor-gedor pintu, berkali-kali menyerukan nama Fikry, tetapi tetap tidak ada jawaban dari dalam.


“Mungkin pak Fiik tidur, Riz” sahut Bella di sisi Rizkan.


Kekhawatiran Rizkan semakin menjadi.


“Biar kudobrak saja”


“Eh, nanti,,jangan,,,,,” ucapan Bella terhenti, ketika Rizkan tanpa pikir panjang, langsung mencoba masuk dan ternyata memang tidak dikunci.

Sisa-sisa kepulan asap rokok menyeruak seketika pintu itu dibuka.Rizkan dan Bella berjalan perlahan, menyusuri lantai kamar apartemen itu. Sisa abu rokok yang beretebaran, baju-baju bekas yang berserakan di lantai, serta ranjang dan bed cover yang jauh dari kata rapih seolah mendekorasi seisi ruangan. Di ujung sana, di balkon yang terbuka, Fikry duduk menatap mereka tanpa kata. Semakin khawatir Rizkan jadinya, ‘Apa gerangan kiranya yang terjadi pada mantan teman sekelasku ini’.

 


Emosi Rizkan membuncah, ditariknya kerah kemeja Fikry. Dengan genggaman erat Rizkan membentaknya, serasa kembali ke jaman sekolah dulu dimana Rizkan adalah layaknya seorang jagoan di kelas.


“APA YANG TERJADI PADAMU FIKRY!?” Surat Mina yang sedari tadi dibawa Rizkan dilempar di hadapan Fikry.


Bella hanya bisa menangis, tak mampu menghalangi rekannya yang sudah siap menghajar habis Fikry.

Rizkan kembali menarik keras kerah baju Fikry ke arahnya, seraya mengangkat kepalan tangan kanannya, siap melancarkan serangan.


“Apa kau tahu dia akan pergi dari dunia ini selamanya??” Tanya Rizkan, menatap tajam Fikry yang diam tanpa kata.

 

 

 

-        To be continue -

Thursday, February 24, 2022

Cafe Hits - Don't be sad -

  Episode 9 -



Pak Bas : “pagiii semuaaa,,,wah rajin2 sekali pegawai2 saya hari ini”

Tentu Pak Bas sangat senang melihat semua sudah rapi, bersih, dan siap di cafe hari ini. Seolah dalam hati berkata ‘ya Allah, terima kasih karena Engkau telah merubah mereka menjadi pegawai yang disiplin’.


All : “paagiiii....”

Semua tampak jenuh, menunggu Fikry yang tak kunjung datang. Bella dan Ainun sudah cemberut sedari tadi.


Bella : “Huh, dah rapi2 dari subuh...ampe sekarang belom datang juga...”


Pak Bas : “lhoo, kalian kenapa?? Kok kalian terlihat tidak ceria di pagi hari yang indah dan cerah ini??

Coba lihat di luar sana, Mentari pagi tiada jemu-jemunya menyapa kita hari ini lho...”

Padahal sudah jam 9 lebih, Pak Bas memang suka menggoda pegawainya agar mereka ceria kembali.


Rizkan yang mondar mandir sedari tadi sudah tampak sangat kesal.

Rizkan : “pak Bastian ini, orang lagi kesal malah berpuisi ria....lagian ini tuh dah siang Pak 😠“


Pak Bas yang baik hati hanya menanggapi respon kekesalan Rizkan dengan senyum dan tawa. Klo Bos lain mungkin dia sudah dipecat 😏.


Pak Bas : “hahaha...okeoke, saya cuma mencairkan suasana saja.

Lagian, kalian ini ngumpul disini ngapain? Keliatannya cemberut semua?”


“Bel,,coba jelasin..”

Jawab Rizkan yang masih mondar-mandir.


Bella : “gini lho Pak, kami tuh lagi nungguin Pak Fikry...biasanya kn dia pagi-pagi banget dah datang tuh,,tapi ini udah siang malah belom datang juga.”


Pak Bas : “ooohh, jadi kalian semua nungguin Fikry”


Ainun : “iyaah pak Bastian...aku tuh dah cape2 dandan cosplay gini dari subuh, terus langsung kesini beres2 cafe,,

Tapi sampe sekarang, pak Fik malah ga datang2,,,

Ini juga si Fandy, janjinya mau datang pagi2, tapi sampe sekarang ga datang jg, ditelpon jg ga diangkat2,,,,kan kesel Pak”

Ainun cemberut sejadi-jadinya.


Bella : “Rizkaaann, kamu tuh jangan mondar-mandir mulu,,, pusing ngeliatnya..”

Bella sudah kesal, dan memarahi Rizkan yang sebenarnya hal itu tidak perlu.


Rizkan lalu duduk di meja di samping Ainun dan Bella. Ia melipat tangan di dada, cemberut.


Mendengar hal itu, Pak Bas cuma bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir melihat tingkah laku para pegawainya. Biasanya mereka musuhan sama si Manajer, Fikry, karena sifat nya yang tegas dan perfeksionis. Tapi, kali ini malah ditunggu2.


“Ya sudah,,yg penting nanti klo ada pelanggan jangan dicuekin ya.

Saya ke ruangan dulu.”

Ucap Pak Bas seraya melangkah menuju ruangannya yg berada di belakang tidak jauh dari meja kasir.


All : “iyaa paaak...”

Sahut mereka, serentak.


“Eehh,,pak!

Tunggu dulu !”

Teriak Bella yg langsung bergegas menghadang Pak Bas.


Bella : “sayah butuh penjelasan!”

Masih dengan ekspresinya yg kesal dan cemberut.


Pak Bas : “ ??? “


Pak Bas bertambah bingung dengan tingkah laku pegawainya yg satu ini. Kepolosan dan keberaniannya patut diacungi jempol.


“Ada apa Bell ??“


“Kenapa sih, Pak Bas curang sama sayah....pilih kasih !”

Ucap Bella, matanya mulai berkaca2.


“Lhooo, Apa maksudnyaa ?”

Jawab Pak Bas.


“Bapak ngasih bonus kan kemarin ke Aidil ??

Padahal sayah yg selama ini kerja keras ajah blom pernah dikasih bonus...

Tapi, Aidil yg suka tidur siang itu malah dikasih.

Ini ga adil Pak !!

Sayah mogok kerja ajah klo begini mah”

Ujaran kekecewaan Bella benar2 tertumpah. Air matanya pun tak kuasa terbendung, dan akhirnya menetes. ia tidak terima diperlakukan tidak adil seperti ini. Hi


Pak Bas : “hedeeuh...

Bell,,siapa yg ngasih bonus ??

Bapak ga ngasih bonus ke siapa pun kok.”


Pak Bastian berupaya menenangkan Bella dan menjelaskan yg sebenarnya.


Mendengar hal itu, seketika Bella berhenti menangis dan kembali ceria.


“Lho, jd bukan bonus y Pak?

Bapak ga kasih apa2 ke Aidil?”


Pak Bas : “ga, saya ga pernah kasih apa2.

Sudah kn? Saya ga curang kn?”


Bella : “hehehe...i,iyaa Pak”

Jawabnya tersipu malu, karena sudah salah menduga yg tidak baik kepada Pak Bastian.


Pak Bastian pun kembali ke ruangannya dan Bella kembali bergabung dengan teman2nya di meja yg semakin gelisah serta tidak sabaran menunggu kedatangan Fikry.


Rizkan yg sedari tadi menguping pembicaraan Bella dan Pak Bas (ga perlu nguping jg kedengaran sebenarnya) menaruh curiga, sebenarnya apa yg diterima oleh Aidil? Bella tidak mungkin berbohong. Bella dan Ainun adalah orang yg terpolos dan terlugu yg pernah ia temui.


Pertanyaan itu terus terngiang di dalam pikirannya. 

‘Pasti ada something wrong with Aidil. Secara, Aidil jg kaki kanannya Fikry.’ Kata Rizkan dalam hati.


“Bell...kamu yakin Aidil nerima bonus?”

Rizkan bertanya kepada Bella yg sedang riang karena dugaannya kepada Pak Bas yg ternyata salah.


“Iyaah...

Soalnya semalam ak liat sendiri kok, Aidil lagi itung2 uang gitu dari

Amplop.

Tapi tadi kata Pak Bas itu bukan bonus.”

Jawab Bella dengan polosnya.


Rizkan : “hmmm.....kayanya dia harus diinterogasi nih..”


Semua bingung menatap Rizkan. Kecurigaan Rizkan bukan tanpa alasan, sebab selama ini Aidil adalah kaki kanan Fikry yg selalu nurut klo disuruh sesuatu (tidak seperti Rizkan yg suka protes dan malah musuhan dengan Fikry, manajernya sendiri 😂) dan setelah itu pasti Aidil diberi tips (Rizkan selalu ngintip, bisa dibilang kepo, jd tau klo Aidil suka diberi tips tambahan).


“okeh,,,,,Bel, coba kamu panggil Aidil kesini” ujar Rizkan.

 

“memangnya dia mau dipanggil sama kamu?” sahut Bella.

Aidili memang tidak mau nurut sama siapapun, kecuali Manajernya, Fikry dan Pak Bas.

 

“lho, emangnya kamu ga denger tadi?..... Pak Bas yang nyuruh manggil Aidil”

Rizkan jago dalam hal siasat. Klo tidak dibohongi seperti itu, Aidil pasti tidak mau dating. Dan Bella, karena kepolosannya langsung percaya begitu saja kepada Rizkan.

 

Bella : “ohh gitu,,,yaudah, tunggu bentar aku panggilin”

 

Tidak berapa lama kemudian, Bella pun dating bersama Aidil. Namun sesaat sebelum Aidil masuk ke ruangan Pak Bas, Rizkan langsung menghadangnya.

 

“Eeittss….tunggu dulu!”

 

“Apaan si,,,,,minggir, gua mau lewat. Dipanggil Pak Bas ni” ujar Aidil, mendorong Rizkan yang menghadang jalannya.

 

Tanpa basa-basi, Rizkan langsung menarik lengan Aidil, lalu membawanya ke Dapur. Rizkan tidak mau klo sampai perbincangan mereka didengar oleh para pengunjung cafe.

 

Aidil : “Kenapa sih??.....lu ada masalah sama gua??”

 

Rizkan mengacungkan jarinya, senada mengancam dengan penuh kekesalan.

“denger yah!....aku serius!....ini menyangkut nyawa seseorang!”

 

Tanpa sengaja, percakapan mereka didengar oleh sang koki, Lutfi yang masih saja sibuk memasak. Ia pun menoleh karena mendengar kata-kata ‘Nyawa Seseorang’. Nampaknya kali ini ada masalah serius, pikir Lutfi. Karena sudah menjadi hal lumrah jika Rizkan bersih tegang dengan Aidil, secara Rizkan memang musuhan sama Fikry. Lutfi pun menghentikan pekerjaan memasaknya sejenak, dan menghampiri mereka berdua di pojok dapur.

“Ada apaan ini??.....” Tanya Lutfi dengan sikapnya yang dingin.

 

Mereka menoleh sejenak kea arah Lutfi, jarang2 si Koki ini ikut campur masalah orang lain.

Rizkan lalu melanjutkan menginterogasi Aidil. Ia kemudian menarik kerah baju Aidil, seraya ingin memukulnya, dan menggertaknya.

 

“Kamu pasti tau sesuatu kn!.... Ayo Jelasin!!” Gertak Rizkan. Ia ingin sekali memukul Aidil, namun ditahan oleh Lutfi.

 

“Aidil!,,,jawab pertanyaan Rizkan…klo benar ini menyangkut nyawa seseorang, maka ini tidak main-main” sahut Lutfi, dengan tatapan matanya yang dingin. Ia sedari tadi menahan tangan Rizkan yang ingin memukul Aidil.

 

Aidil pun akhirnya mengalah. Karena ia pikir, ia tidak mau sampai berurusan dengan polisi jika memang benar ada jiwa yang terancam dalam masalah ini.

 

“i, iya,,,,gua jelasin,,,,,

Tapi,,,,ini sebatas yang gua tau aja,,,,”

 


--to be continue--


Tuesday, September 18, 2018

Cafe Hits - Don't be sad -


- Episode 8 -




— Flashback —



Setelah puas bertanya kepada pihak admin Rumah Sakit, Ibu Mina beranjak kembali ke kamar Mina.

Sepanjang perjalanan, menyusuri koridor rumah sakit itu, si Ibu masih saja memikirkan dan bertanya-tanya,,siapa gerangan yang membayar lunas semua biaya pengobatan Mina??

Tapi di sisi lain, ibu Mina sangat bersyukur. Padahal niatnya ke bagian admin tadi selain untuk menanyakan biaya pengobatan yang harus dibayar juga untuk memohon keringanan agar tagihan kali ini (seperti juga yg sebelumnya) dapat dilunasi di lain waktu.

“Pagi Tante...”
Ternyata tanpa disadari, sosok Revan sudah berdiri di depan Ibu Mina dan menyapanya.
Rupanya di tengah perjalanan, ibu Mina bertemu dengan Revan yang ketika itu hendak menuju pintu keluar Rumah Sakit.

Ibu Mina : “Nak Revan? Abis darimana?”

Revan : “ini tadi aku baru aja jenguk Mina, sekarang mau balik ke kantor”

Ibu Mina : “oohh,,,kok buru2?”

Revan : “iya tante, kebetulan ada meeting...aku duluan ya tante.
Permisi, assalmu’alaikum”

Ibu Mina : “iya iya,,
Wa’alaikumussalam....”
Jawabnya sambil memandang Revan seiring ia berlalu.

Revan terlihat tergesa-gesa, sesekali ia melihat jam tangan dan mempercepat langkahnya. Ketika akan sampai di lobby Rumah Sakit secara tidak sengaja ia melihat sosok Fikry dan om Nas yang masih berbincang di salah satu lorong Rumah Sakit yang sepi dekat lobby itu.

Revan merasa tidak enak jika harus pulang begitu saja tanpa pamitan, jadi dia memutuskan menghampiri mereka untuk berpamitan dengan Om Nas.

Namun beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti. ia menyadari sedang terjadi perdebatan sengit antara Fikry dan Om Nas.

“Ga ....
Ga mungkin om ! ... “
jawab Fikry, tegas.
Raut wajah nya terlihat kecewa sekaligus marah.

Terlihat Om Nas pun tidak terlihat senang. Nada suaranya meninggi dan sedikit kesal
“Tolonglah Fik ! ... “

“Ga ...
Aku ga bisa ...
... “
Tegas Fikry sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Tangannya memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing setelah mendengar permintaan Om Nas.
“Aku cinta sama Mina Om !,,,
....
Ga !! ....
Aku ga bisa melakukan apa yg Om minta ! “

Om Nas terlihat terus memberikan penjelasan kepada Fikry agar dia mau mengerti dan memahami alasan dibalik permintaan Om Nas.
“Ini demi kebaikan Mina !! “
Tegas Om Nas.

“Apa salahku Om ?!
Apa salahku ?!! ....
Sampai aku harus meninggalkannya ?!! .... “

Fikry sangat tidak terima dengan keputusan Om Nas. Sepengetahuannya ia tidak pernah melakukan kesalahan yg membuat orang tua Mina kecewa atau semacamnya. Semua berjalan baik-baik saja pada awalnya.

Revan yg berada tidak jauh dari sana otomatis, secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Meskipun dia tau itu bukan urusannya, tapi mendengar berita itu tentu cukup membuatnya terkejut.

(Apakah selama ini hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Mina??)
(Mungkinkah mereka akan berakhir??)
(Apakah ini peluang bagiku??)
Pertanyaan2 itu terus menggema didalam pikiran Revan.

Selang beberapa menit kemudian, Om Nas menyadari kehadiran Revan yg berdiri tidak jauh dari mereka. Om Nas pun menghentikan pembicaraannya dengan Fikry dan berpura-pura tersenyum ke arah nya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Oh, ma,maaf Om Nas klo aku mengganggu percakapan kalian.
... “
kata Revan, ia menyadari seketika Om Nas melihatnya percakapan mereka langsung terhenti. Hal itu semestinya adalah rahasia diantara mereka berdua dan Revan tidak smestinya ikut campur, apalagi mendengar percakapan tersebut.

Fikry : “ ............. “
Fikry hanya diam saja, tidak berkata apa-apa. Hanya menatap tajam ke arah Revan. Api cemburu sudah mulai membakar dirinya.

Om Nas bertanya2 dalam hati,
(Apa Revan mendengar percakapanku tadi??).
“Tidak apa2 kok, kami ....
Cuma berbincang aja”
Om Nas mencoba menjelaskan kepada Revan bahwa yg tadi itu hanya perbincangan biasa.

Fikry hanya bisa mengangguk, kesal dan berkata:
“Oh .....
Jadi,,, karena dia “ sambil melihat sinis ke arah Revan

Om Nas hanya menoleh ke arah Revan dan tidak mampu berkata2, tidak mengiyakan tidak pula menyanggah pernyataan Fikry.

Revan yang ditatap dengan tatapan yg penuh amarah oleh Fikry hanya terdiam melihat ke arah mereka berdua, tidak mengerti apa yg sebenarnya mereka maksudkan.

Sebenarnya Om Nas ingin memberi penjelasan bahwa itu semua tidak seperti yg Fikry pikirkan, tetapi
Fikry tidak tahan lagi. ia pun langsung pergi dari hadapan Om Nas, dengan langkah yang dipercepat dia pergi tanpa berpamitan.

Fikry tidak mau emosinya meluap dan tidak terkendali. Dia lebih memilih untuk pergi dari sana, daripada harus meluapkan emosi kecemburuannya kepada Revan saat itu.

Revan merasa tidak enak dengan Fikry. Ia menyadari bahwa ia seharusnya tidak berada di sana dan kehadirannya sangat tidak diharapkan khususnya oleh Fikry.

(Mungkinkan ini semua karena kehadiranku??)
Kata Revan dalam hati. Revan terdiam sejenak dan memikirkan itu semua. Sepertinya ia telah berdosa karena mungkin saja akan membuat hubungan dua orang kekasih yg saling mencintai itu berakhir.

Untuk mengalihkan topik, Om Nas memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan Revan.
“Nak Revan,,
Kamu sudah menjenguk Mina ?”

“i,iya Om.
Kebetulan ada meeting nanti siang, jadi aku harus pamit”
Jawab Revan

“Nak Revan,,
Om mau mengucapkan banyak terima kasih...
Di saat2 sulit seperti ini ...”

Revan lalu memegang pundak Om Nas untuk menguatkannya dan agar beliau tidak sungkan dengan bantuan yg telah diberikannya.
“Sudahlah Om,,,
_never mind_ “

Om Nas tersenyum. ia memang bersyukur, karena di masa2 sulit yang tengah dialaminya Revan memberikan pertolongan yg tidak sedikit tanpa pamrih. tapi beliau masih tetap merasa sungkan dengan Revan.
“Tapi Nak Revan, semua biaya itu tidak murah .... “

Revan pun menjawab dengan santun.
“Om Nas,,,
....
Sama seperti hal nya Om dan tante,,,
Bagiku juga yang terpenting adalah kesehatan Mina.”


———————————


Di Cafe, tidak biasanya para karyawan sudah berkumpul dengan sigap. Bella, Ainun, dan Rizkan sudah ada di Cafe itu sejak pukul 06.00. Terkecuali Fandy yg sampai sekarang pun belum datang.

Vya dan Lutfi datang belakangan pada pukul 07.30. Vya masuk Cafe lalu menyapa teman2nya dan langsung ke meja kasir.
Lutfi datang hampir bersamaan dengan Vya. Kemudian ia merasa aneh dengan teman2nya itu (Rizkan n the gang), tampang mereka terlihat serius sekali.

“Morning Bro n Sis”
Sapa Lutfi, dengan ramah dan senyuman pagi yg sumringah.

Rizkan menjawab seadanya dengan tatapan lurus kedepan melihat jauh keluar Cafe (menembus pintu masuk yg terbuat dari kaca)
“Iyaa, pagiii”

Bella dan Ainun juga sama, menjawab seadanya.
“Pagiii”
mereka sudah mulai jenuh menunggu Fikry yg tak kunjung datang, padahal biasanya pagi2 buta sudah datang dan ngomel2 kalau Cafe belum siap.

sementara itu Aidil baru datang 15 menit kemudian. (Aidil, Vya, dan Lutfi memang tidak ikut2an Rizkan n the gang, jadi masuk seperti biasa).

Semua pekerjaan persiapan buka cafe serta bersih2 telah selesai dikerjakan sejak 06.30 tadi pagi. Setelah pekerjaan persiapan selesai pagi itu Rizkan, Bella, dan Ainun duduk dengan sabar, menunggu datangnya sang manajer.

Seperti yg dijanjikan semalam, rencananya mereka akan menyergap si Manajer, Fikry, ketika masuk Cafe dan memberitahu nya tentang isi surat tersebut.

Jam sudah menunjukan pukul 08.30, namun sosok yg ditunggu tidak kunjung datang. Rizkan terlihat mondar-mandir, kesana kemari. Sesekali ia melihat jam dinding di ruang makan pelanggan, ia sudah tidak sabar menanti kedatangan Fikry.

Tak lama kemudian, Pak Bastyan pun datang.




-to be continue-

Wednesday, September 12, 2018

Cafe Hits - Don't be sad -

- Episode 7 -



— flashback —



Mereka terus berjalan, sampai akhirnya tiba di lantai dasar, di ujung lorong rumah sakit dekat Lobby.
Kemudian, datang seorang laki - laki dengan mengenakan kemeja kantoran lengkap dengan jas hitam elegan nya menghampiri mereka.


Cwo : “Pagi, Om Nas”

Om Nas : “eh, Nak Revan.
Kamu baru datang?”
Jawab Om Nasrudin, menyambut hangat Revan yang datang menghampiri.

Revan : “halo, Fik”

Fikry : “hai...”

Fikry dan Revan berjabat tangan dan saling menyapa. Namun, Fikry terlihat tidak senang.

“kamar Mina dimana ya Om?”
Tanya Revan, antusias

“Lt.5 di Ruang Cempaka,
lorong ini lurus saja, nanti ada lift, terus ada petunjuk arah ruang cempaka”
Jawab Om Nas.

Fikry melihat, ekspresi Ayah Mina ketika Revan datang sangat senang sekali.

Revan pun langsung berlalu dengan membawa tentengan berupa parcel buah - buahan yang dikemas dengan mewah.

(“Revan ya,,,,sering liat dulu pas di kantor...
Untuk apa dia bawa2 buah segala? Ga tau apa, aku cwonya sudah jenguk dan bawa buah?”)
Kata Fikry dalam hati. ia tidak terlihat senang ketika melihat Revan datang. Tatapan matanya yang tajam terus memantau Revan dari kejauhan, sampai tidak terlihat lagi.

Dulu sewaktu Fikry masih bekerja di kantor Ayah Mina, ia pernah beberapa kali bertemu dengan Revan. Awalnya dia berpikir bahwa Revan hanyalah rekan bisnis biasa yang datang ke kantor untuk meeting dengan Om Nas. Tetapi lambat laun, Fikry sering melihat Dia menaruh perhatian terhadap Mina.

Mina, dalam beberapa kesempatan, pun sering bercerita kalau Revan selalu perhatian kepadanya. Tapi, Mina selalu tidak berpikir yang aneh2 terhadap perilaku Revan.

Mina menganggap Revan hanya teman biasa, sekaligus rekan bisnis yang bersahabat. Mina berpikir bahwa harusnya Revan sudah tau bahwa ia sudah memiliki sandaran hati, yaitu Fikry. Jadi, Revan tidak mungkin ada maksud2 tertentu.

Berbeda halnya dengan Fikry. ia kerap cemburu dengan Mina, ketika Revan datang atau bertamu ke rumah Mina. Revan juga kerap datang ke kantor Ayah Mina, Fikry tidak percaya kalau itu semua hanya urusan bisnis.

Menurut Fikry, Revan pasti datang untuk menemui Mina, yang memang menjabat sebagai salah satu manajer di kantor ayahnya, dengan berbagai macam alasan alias modus.

Belum lagi belakangan ini, sambutan Om Nas setiap kali Revan datang begitu hangat, sangat menerima.

Pernah suatu kali, Mina dan Fikry sudah memiliki janji untuk makan malam bersama di luar. Tetapi, Revan datang ke rumah Mina dan mengajak Om Nas dan Mina makan malam bersama. Revan beralasan bahwa ada proyek yang bonafit dan perlu segera dibahas. akhirnya, janjian dinner Fikry dengan Mina terpaksa batal.

Tak lama kemudian, Revan pun tiba di ruang Cempaka tempat Mina dirawat inap. Setelah mengetuk pintu dan memberi salam, ia masuk ke dalam ruangan dan melihat hanya ada Mina sendirian di ruangan.

“Assalamu’alaikum,,
Hai Mina”
Sapa Revan tatkala memasuki ruangan dengan senyuman sumringah khasnya.

“Wa’alaikumussalam,,
...
Revan?”
Jawab Mina, ia tak menyangka Revan akan datang menjenguk untuk yang kesekian kalinya.

Mina tak berharap Revan akan datang kali ini. ia menjadi merasa tidak enak dengan Revan, karena selama ini tak pernah peduli dengan Revan.
Tetapi sebaliknya, Revan selalu peduli dengannya.
Walaupun selama ini memang Mina tidak ingin memberikan celah, atau harapan untuk Revan mendekatinya.

Revan masuk, meletakan parcel buah besar yang dibawanya itu di atas meja makan, lalu ia duduk di samping Mina, tempat yang sama dengan Fikry duduk tadi.

Revan menanyakan tentang kondisi Mina dengan antusias.
“Gimana kondisimu sekarang Mina?”

Mina : “sudah lebih baik kok”
Jawabnya, datar tanpa ekspresi.

Revan : “kamu pasti kurang istirahat lagi kn? Bandel sih...”

Mina : “iyaaa, mau gimana lagi? Hidupku kn ga cuma di kamar, istirahat melulu...”
Jawabnya tanpa menatap Revan, ngambek.
(Kenapa tanya2 sih) kata Mina dalam hati. ia masih merasa agak tidak suka ditanya2 oleh Revan.

Revan : “(menghela napas panjang)
...
Kamu tuh ya !...
Paling suka bikin orang lain khawatir ... “
Revan menatap tajam ke arah Mina, dia mulai berbicara dengan nada suara yang serius.

Mina menoleh dan menatap Revan. ia melihat raut wajah Revan yang sangat khawatir. Mina belum pernah melihat Revan seperti itu sebelumnya.

Mina : “....”

“Kamu tidak lihat gimana cemasnya Ayahmu, ibumu, dan orang-orang terdekatmu ?? “
Lanjut Revan, nada suaranya agak sedikit tinggi. Itu semua ia lakukan agar Mina tidak lagi melanggar anjuran dokter.

“Kami semua khawatir Mina...
....
Jadi tolong....
Minum obat yang teratur dan banyak istirahat,,,
Ikuti apa kata dokter
... “

Mina : “ ........ “
Mina tak mampu berkata apa-apa, ia hanya melihat Revan dan memikirkan tentang semua yang dikatakan Revan

Revan terlihat sangat menggebu-gebu ketika menasihati Mina yang memang suka melanggar aturan dokter.
Mina melakukan hal itu karena sudah bosan dengan semua pengobatan yang rutin ia jalani, namun tak kunjung memberikannya kesembuhan.

Setelah mendengar itu semua, hati Mina mulai merasa luluh. ia tak pernah berpikir bahwa Revan ternyata sepeduli itu dengannya.

Mina : “ ......
Iyaa,,,Maaf”
Mina pun tersenyum manis, dan meminta maaf kepada Revan.
“Aku janji deh, mulai hari ini akan nurut sama dokter”
Lanjutnya.

Mina menatap dalam mata Revan, tersenyum lalu berkata:
“Biar orang tua aku, ....
Dan orang lain di sekitarku,,
Yang menyayangiku,,, tidak lagi khawatir,,,
Termasuk kamu ....”

Revan mulai salah tingkah, dan mengalihkan pandangannya dari Mina.
“......
Oh iya,,,aku tadi bawa buah,
Buat kamu,,,
Dimakan yah “
Jawab Revan tanpa menatap Mina. ia terlihat gugup, dan sesekali membenarkan kaca mata bergagang hitamnya. Padahal posisi kacamata nya baik-baik saja.

Mereka berdua terdiam sejenak, tanpa sepatah katapun terucap. Suasana hening nan awkward.

(Duh, kenapa aku harus bilang kayak gitu ke Revan, jd bingung kn mau ngomong apalagi.)
Kata Mina dalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara dering telpon dari hp Revan yang sejak tadi digenggamnya.
Revan : “ya halo ...
....
Oh! Iya maaf....
Saya lupa”
Revan menjawab telpon tersebut lalu melihat jam tangan mewah nya yang dikenakan di tangan kiri.

“Jam berapa meeting nya?
....
Ok ok, saya langsung kesana
... tunggu ya
...
Ok makasih”
Revan terlupa bahwa ada meeting di salah satu perusahaan nya yang harus ia hadiri.

Revan merasa terselamatkan oleh telepon tadi dari suasana hening tadi. Otomatis, dia harus segera beranjak dari sana agar dapat menghadiri meeting tepat waktu.

Revan bangun dari kursinya, lalu berpamitan dengan Mina.
“Mina, maaf aku harus ke kantor sekarang...
Aku lupa ada meeting nanti siang”

Mina : “iya gpp”

Revan : “ibumu tidak datang?”
Jawab Revan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. ia baru sadar sedari tadi hanya bertemu dengan ayahnya Mina di lobby Rumah Sakit dan belum bertemu dengan ibunya Mina.

“oh, ada kok, tadi lagi keluar sebentar”
Jawab Mina.

Revan : “yasudah, salam buat ibumu ya”

Mina : “iya, nanti aku sampaikan”

Revan pun bergegas keluar ruangan dan sibuk men-check WA di hp nya. Dia benar2 lupa agenda kantor hari ini. Baginya menjenguk Mina jauh lebih penting, sehingga dia melupakan urusan kantornya.

Sementara itu, di bagian ruangan lain Rumah Sakit. Ternyata Ibu Mina sedang menanyakan terkait biaya Perawatan Mina di bagian administrasi.

“Apa ?? ...
sudah lunas semua ?? “
Jawab Ibu Mina, terheran - heran.

Ibu Mina datang ke bagian administrasi untuk mengurus perihal biaya Rumah Sakit. Namun ia terkejut, karena semua biaya sudah terbayar lunas.

Semua lunas termasuk seluruh tunggakan biaya Rumah Sakit. Kebetulan pemilik Rumah Sakit kenal dekat dengan Nasrudin, ayah Mina. Sehingga meskipun tidak mengapa meskipun biaya perawatan Mina belum dibayar dan menunggak.

Rumah Sakit ini memang terkenal bagus dan memiliki peralatan yang lengkap. Tak ayal apabila biaya perawatan di Rumah Sakit ini harganya selangit. Namun itu semua diimbangi dengan profesionalisme tenaga kesehatan dan fasilitas pengobatan yang lengkap.

Mina selalu dibawa ke Rumah Sakit ini untuk perawatan. Tetapi karena terlalu sering, biaya yang harus dikeluarkan pun sangat besar dan tidak jarang Orang tua Mina harus menunggak.

“Coba cek lagi mba,,,
Ga mungkin lunas semua,,,
Soalnya kami memang belum bayar”
Kata Ibu Mina yang masih tidak percaya dengan jawaban admin.

Mba Admin : “sudah Bu, ini sudah kelima kalinya saya cek.
Semuanya sudah lunas Bu,
Sudah ada yang bayar”


-to be continue-